Laporkan Masalah

Globalisasi Budaya di Indonesia Melalui Industri Hubungan Internasional: Studi Kasus Jaringan Distribusi Film Asing

KRISVIANTI, Saras,

2003 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Penelitian mengenai Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) didasarkan pada banyaknya jumlah penduduk miskin di Kecamatan Panjatan. Kemiskinan disebabkan sulitnya mengakses modal, baik untuk mengembangkan usaha maupun membuka usaha. Untuk melihat keberhasilan dari program SPP di Kecamatan Panjatan tahun 2009, penelitian ini menggunakan analisis before after, yaitu dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah menerima program. Partisipasi perempuan dilihat dari keaktifan dalam tahapan-tahapan program. Pengembangan dan keberlanjutan usaha merupakan tolak ukur dari peningkatan kesejahteraan penerima dana. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif untuk mendalami, memahami serta menjelaskan fenomena yang terjadi. Data yang digunakan berasal dari kelompok-kelompok SPP, tim UPK, dan Kepala Desa. Data-data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Kecamatan Panjatan adalah salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Kulon Progo. Secara umum wilayah Kecamatan Panjatan merupakan daerah datar dengan ketinggian sampai dengan 100 meter dari permukaan air laut. Potensi yang ada di Kecamatan Panjatan seperti pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, industri rumah tangga dan pertambangan. Berdasarkan data jumlah penduduk tahun 2009, Kecamatan Panjatan memiliki jumlah penduduk 42.411 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 20.811 jiwa dan perempuan sebanyak 21.677 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 12.000 KK. Temuan dalam penelitian ini adalah tingkat partisipasi perempuan cukup baik. Walaupun masih ada yang dipengaruhi oleh aparat. Dalam tahapan-tahapan program masyarakat diberi kapasitas dan wewenang untuk mengelola program secara mandiri sehingga mereka yang menentukan yang terbaik buat mereka. Dana SPP terbukti memberikan manfaat kepada penerima dana, karena sebagian besar dapat meningkatkan usaha dan usaha mereka tetap berlanjut walaupun sudah tidak meminjam dana SPP kembali terutama untuk RTM. Beberapa penerima dana SPP tidak menggunakan dana untuk usaha, dana malah digunakan untuk konsumsi kebutuhan yang mendesak. Penelitian ini juga menemukan tidak konsistenya pembagian dana SPP, karena banyak dana yang diberikan ke perempuan dengan status non RTM. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran bahwa, (1) sebaiknya masyarakat terutama perempuan diberi penjelasan lebih intensif mengenai pentingnya pemberdayaan perempuan melalui program SPP, (2) Dana yang diturunkan jangan memakan waktu lama karena akan digunakan untuk modal usaha penerima dana SPP (3) dana SPP harus seluruhnya diberikan kepada perempuan dengan status RTM (4) perlunya pendampingan berkala kepada penerima dana SPP. Kata Kunci: Program SPP, Pemberdayaan Perempuan, Rumah Tangga Miskin, dan Kesejahteraan.

Kata Kunci : Kebudayaan - Indonesia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.