Demokratisasi Thailand Di Bawah Konstitusi 1997 (1997-November 2001)
DHANIK Murti W,
2002 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalKehadiran surat kabar dalam sistem komunikasi massa mendorong perubahan. Demikian juga keberadaan surat kabar daerah di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam hal ini Flores Pos dan Pos Kupang menjadi media yang sangat penting dalam mendorong perubahan khususnya di wilayah kemiskinan dan korupsi masih merajalela. Hal ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi kedua surat kabar daerah tersebut mengingat keduanya adalah institusi media yang bermanfaat dalam mendorong kemajuan dan keadilan bagi masyarakat NTT. Surat kabar daerah harus dapat menunjukkan sikapnya yang jelas terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Ada berbagai ragam persoalan hidup yang menimpa masyarakat NTT yang perlu disikapi oleh kedua surat kabar ini. Salah satunya adalah masalah korupsi. Pertanyaannya, bagaimana sikap surat kabar daerah, Flores Pos dan Pos Kupang dalam menghadapi masalah korupsi di NTT selama tahun 2009-2010? Realitas NTT yang rakyatnya miskin dan pemerintahannya yang korup inilah yang mendorong peneliti untuk mengkaji sikap media (pers daerah). Peneliti menggunakan analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) model Teun A. van Dijk. Data yang dikumpulkan adalah data teks editorial dari kedua surat kabar daerah, data kognisi penulis editorial dan data konteks sosial. Data teks editorial diperoleh dengan teknik dokumentasi berupa kliping editorial dari masing- masing surat kabar. Data kognisi penulis editorial diperoleh dengan teknik wawancara. Sedangkan data konteks sosial diperoleh dari laporan LSM PIAR tentang korupsi di NTT. Peneliti tidak hanya menganalisis teks semata-mata, tetapi juga menganalisis kognisi sosial dan konteks sosial. Temuan dalam penelitian ini adalah kedua surat kabar daerah, Flores Pos dan Pos Kupang memiliki sikap menolak korupsi. Perbedaannya terletak pada cara menyampaikan sikap antikorupsi. Hal ini dapat dilihat pada proses terbentuknya teks editorial yang melibatkan kognisi penulis dan konteks yang ada ketika teks editorial tersebut diproduksi. Cara menyampaikan pesan antikorupsi dari kedua surat kabar daerah ini tentu dipengaruhi oleh bermacam faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi media adalah faktor dominasi kekuasaan pemilik media. Kedua surat kabar daerah ini memberikan corak yang berbeda dari aspek kepemilikan media. Flores Pos cenderung lebih independen dalam memproduksi teks editorial, sedangkan Pos Kupang cenderung dibatasi independensi sang penulis dalam memproduksi teks editorial. Catatan ini mempertegas bahwa realitas media sekarang dapat terkooptasi oleh kepentingan pemilik modal, pasar atau negara. Dengan ini pula mendukung konsep dasar analisis wacana van Dijk bahwa media tidak mutlak netral. Karena itu pembaca harus lebih kritis lagi untuk menilai sikap media. Kata kunci : Sikap surat kabar daerah, korupsi, editorial, analisis wacana
Kata Kunci : Demokratisasi Thailand