Laporkan Masalah

Berakhirnya Rezim Kerjasama Pembatasan Sistem Anti Rudal (ABMT 1972): Eksplanasi Neorealis Dan Neoliberal

ARI Susanto,

2002 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Penetapan wabah penyakit flu babi sebagai pandemi global oleh WHO, melalui pengumuman pandemi fase 6 (level tertinggi) pada tanggal 11 Juni 2009, merupakan langkah awal sekuritisasi. WHO mengemukakan alasan untuk menjaga keamanan kesehatan masyarakat global dari ancaman wabah pandemi sebagai alasan yang melatarbelakangi kebijakannya terhadap flu babi. Namun disisi lain ternyata kebijakan WHO yang menetapkan flu babi sebagai pandemi global, lebih disebabkan karena adanya pengaruh kepentingan aktor fungsional yang dalam hal ini disebut dengan istilah Big Pharma. Kepentingannya adalah untuk mendapatkan keuntungan finansial dari hasil penjualan vaksin anti virus flu babi, karena pada dasarnya Big Pharma merupakan perusahaan farmasi yang memproduksi dan memasarkan vaksin flu babi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan kacamata konstruktivisme, teori sekuritisasi dan konsep health security untuk menganalisa fenomena ini. Wabah penyakit flu babi menjadi ancaman global, tidak disebabkan karena besarnya potensi ancaman virus terhadap kesehatan masyarakat global, melainkan lebih disebabkan karena kuatnya pengaruh speech act yang dilakukan oleh securitizing actor (WHO). Kondisi ini membuat masyarakat dan negara-negara internasional mempercayai apa yang disampaikan oleh WHO tentang flu babi. Terlihat dari kepanikan yang ditimbulkan setelah pengumuman flu babi sebagai pandemi fase 6. Semua negara dipersuasi untuk menjalankan mekanisme pananggulangan yang ditetapkan oleh WHO, sesuai dengan IHR 2005, yang diantara sekian banyak mekanisme cenderung lebih mengutamakan penggunaan mekanisme vaksinasi sebagai upaya preventif. Mekanisme ini telah menuntut negara untuk mengeluarkan sejumlah anggaran darurat untuk menyediakan suplai anti virus flu babi. Namun ternyata vaksinasi tidak bisa mengurangi jumlah kematian akibat flu babi, bahkan justru menyebabkan timbulnya imunitas bagi orang yang sudah divaksin terhadap penyakit lainnya yang lebih berbahaya. Fakta ini merupakan salah satu bukti yang menunjukkan adanya jalinan kepentingan antara WHO dengan Big Pharma, yang dalam hal ini dihubungkan oleh SAGE (tim khusus yang terdiri atas ahli-ahli virus dan penyakit yang dibentuk oleh WHO untuk menyusun mekanisme penanggulangan wabah penyakit pandemi. Selanjutnya dihubungkan melalui CDC (laboratorium dan lembaga virologi yang berperan untuk melakukan uji coba terhadap sampel virus, apakah tergolong kedalam flu babi atau flu musiman biasa). Serta melalui Emergency Committee yaitu tim khusus yang dibentuk oleh WHO sesuai dengan IHR 2005, untuk mengawasi perkembangan flu babi tahun 2009 sejak awal terjadinya di Mexico pada Maret 2009 sampai dengan Agustus 2010 bersamaan dengan ditetapkannya kondisi post pandemi. SAGE, CDC dan Emergency Committee merupakan alat yang digunakan oleh Big Pharma untuk mempengaruhi kebijakan WHO tentang penanggulangan flu babi 2009.

Kata Kunci : Berakhirnya Rezim


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.