Bank Dunia dan Proyek Transmigrasi di Indonesia (1976-1986)
CHRISTIANTO, Dodit,
2003 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalABSTRACT Orang Rimba as indigenous communities that’s live in the area of Bukit Duabelas National Park in Jambi Province, they activity can not be separated from the forest. At least two important issues that cause they life can not be separated from the forest. The First, the economic problems that’s become the foundation of survival as a place of hunting, gathering, and to use forest products became the most important economic resource in their activity. Second. Forest becomes the identity of life in running a variety of wisdom traditions and culture that bequeathed by the founding fathers as a guide in carrying out the significance of life for Orang Rimba.Lahirnya kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas (RPTNBD) yang dikeluarkan oleh Balai dan budaya. Kemudian dalam penelitian ini juga, penulis menemukan untuk menghadapi kebijakan RPTNBD tersebut Orang Rimba melakukan perlawanan Individual yang kemudian berevolusi menjadi gerakan kolektif. Perlawanan kolektif merupakan aksi protes yang berbentuk aksi demonstrasi, perlawanan secara formal, dan perlawanan secara adat. Dalam perlawanan kolektif peran beberapa NGO sangat urgen terutama membangun karakter Orang Rimba, mobilisasi gerakan, networks jaringan, dan pendampingan dalam setiap gerakan perlawanan, sehingga perlawanan dinilai efektif dalam menyuarakan tuntutan, sedangkan perlawanan individual lebih bersifat tertutup, dan cendrung merupakan prilaku keseharian Orang Rimba yang kecewa terhadap peraturan yang dibuat oleh pemerintah melalui kebijakan RPTNBD. Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Propinsi Jambi, dengan membagi kawasan taman nasional menjadi enam zona berbeda (zona Inti, zona Rimba, zona Pemafaatan Tradisional, zona zona Pamafaatan Pariwisata, zona Pemafaatan Terbatas, zona Rehabilitas) dan menempatkan dinamika kehidupan Orang Rimba hanya pada zona tradisional saja menyebabkan Orang Rimba mengalami proses marjinalisasi yang hebat dari sumber daya alam mereka sendiri, sehingga untuk memperebutkan hak itu kembali, Orang Rimba melakukan resistensi dengan tuntutan mengembalikan hak ekonomi dan hak identitas yang hilang seiring lahirnya kebijakan RPTNBD. Dengan menggunakan desain penelitian studi kasus (case study) melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa penyebab resistensi Orang Rimba terhadap kebijakan RPTNBD dikarenakan implementasi kebijakan yang tidak mampu mengakomodir kepentingan Orang Rimba. Orang Rimba tidak lah dinilai sebagai asset bagi kelangsungan ekosistem kawasan konservasi, kebijakan RPTNBD lebih mengedepankan aspek ekonomi ekologis daripada memperhatikan kultur kehidupan masyarakat adat di dalam kawasan konservasi tersebut, dan kebijakan menyebabkan hilangnya sumber ekonomi mereka serta hak untuk menjalankan identitas yang sarat akan tradisi dan budaya. Kemudian dalam penelitian ini juga, penulis menemukan untuk menghadapi kebijakan RPTNBD tersebut Orang Rimba melakukan perlawanan Individual yang kemudian berevolusi menjadi gerakan kolektif. Perlawanan kolektif merupakan aksi protes yang berbentuk aksi demonstrasi, perlawanan secara formal, dan perlawanan secara adat. Dalam perlawanan kolektif peran beberapa NGO sangat urgen terutama membangun karakter Orang Rimba, mobilisasi gerakan, networks jaringan, dan pendampingan dalam setiap gerakan perlawanan, sehingga perlawanan dinilai efektif dalam menyuarakan tuntutan, sedangkan perlawanan individual lebih bersifat tertutup, dan cendrung merupakan prilaku keseharian Orang Rimba yang kecewa terhadap peraturan yang dibuat oleh pemerintah melalui kebijakan RPTNBD. Temuan penelitian ini membenarkan apa yang disampaikan oleh Gurr bahwa orang bisa melakukan resistensi jika ia merasa sesuatu yang dihargainya dirampas atau way of life-nya terancam oleh perkembangan baru, disamping itu juga Scott menjelaskan adanya ‘simplifikasi negara’ dimana negara cenderung melegalisasi dan meregulasi kebijakan publik yang terlalu ketat dan seragam untuk kepentingan sendiri, di tengah-tengah kelompok masyarakat yang berbeda-beda karena pluralitas kebudayaan yang mereka milki. Maka tidak salah menurut Scott pada masyarakat yang sudah termarjinalkan seperti ini lah, mereka akan melakukan perlawanan baik secara terang-terangan atau dengan konsep perlawanan sehari-hari yang lebih cendrung tertutup. (every day forms of resistence) Kata kunci : Kebijakan RPTNBD, Marjinalisasi Orang Rimba di Bukit Duabelas, Resistensi Orang Rimba.
Kata Kunci : Transmigrasi