Tinjauan Ekonomi-Politik Militer Indonesia Di Masa Orde Baru
ELLYDA Halimah,
1999 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalTulisan ini mengkaji strategi calon perseorangan dalam merebut suara di Pemilukada. Strategi yang digunakan meliputi pengalangan dukungan untuk pencalonan, mobilisasi dana, mengorganisir tim kampanye dan mengelola kampanye. Praktek penggunaan keempat strategi tersebut dipakai sebagai pondasi untuk melihat kemiripan nalar strateginya dengan kandidat yang diusung oleh partai politik. Penelitian ini dilakukan di Sleman, yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung untuk kedua kalinya, akan tetapi baru pertama kali dan menjadi satu‐satunya kabupaten di Propinsi DIY yang menyertakan calon perseorangan. Kehadiran calon perseorangan awalnya disambut suka cita karena dianggap menawarkan perubahan. Ia adalah alternatif yang memperkaya pilihan, di tengah kejenuhan masyarakat terhadap partai politik yang kian oligarkhis, tertutup, pragmatis dan mengidap sejumlah penyakit lainnya. Akan tetapi, realitas politik berbicara sebaliknya. Calon perseorangan justru memperlihatkan watak, karakter dan tabiat yang nyaris identik dengan kandidat dari partai politik. Cara mereka menggalang dukungan dalam proses kandidasi sama‐sama mengikuti logika transaksional, yang membarter dukungan dengan sejumlah uang. Begitu pula dengan mobilisasi dana yang memiliki kecenderungan menyandarkan sepenuhnya seluruh biaya kampanye di bahu kandidat. Kita juga menjumpai gejala yang sama dalam strategi mengorganisir tim yang meletakkan aktifis dan mantan orang parpol ke dalam lingkaran tim kampanye calon perseorangan. Konsekuensi lanjutan yang kita temui adalah bahwa perencanaan dan pengelolaan kampanye tidak dapat dilepaskan dari pola pikir mereka yang terlibat di dalamnya. Pendekatannya tetap saja berbasis parpol meskipun mereka menyatakan sebagai calon perseorangan dan berdiri berseberangan dengan partai politik. Kedalaman interaksi calon perseorangan dengan parpol dan keinginan merangkul semua elemen telah menyeret mereka ke lubang kegelapan identitas. Calon perseorangan tidak bisa disebut independen, bukan pula sebagai representasi partai politik. Kepekatan dan kejernihannya susah diukur secara pasti. Dalam kasus ini, calon perseorangan gagal menunjukkan bahwa dirinya berbeda dari partai politik. Ia seperti tidak berjarak dengan partai politik. Tak heran jika yang muncul adalah calon perseorangan dengan cita rasa partai politik. Studi ini memperjelas posisi calon perseorangan dalam kancah politik lokal. Jalur perseorangan adalah jalan keluar bagi siapapun yang hendak mencicipi kontestasi pemilukada namun kesulitan menembus ruang kandidasi yang disediakan partai politik. Ia hanyalah pintu alternatif dan tidak bisa secara otomatis disebut berlainan dan steril sama sekali dari partai politik. Perbedaan maupun kemiripannya lebih banyak ditentukan oleh faktor latar belakang kandidat. Makin kental ikatan darahnya dengan parpol, makin besar pula kecenderungan kemiripan cara dan nalar strateginya dengan parpol. Kata kunci : calon perseorangan, strategi, partai politik, kontestasi
Kata Kunci : Tinjauan Ekonomi-Politik