Resolusi Konfilk Dalam Transisi Rezim : Studi Kasus Brasil
HANY Pranayadati,
1999 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalPenelitian ini membahas tentang keberadaan pendeta perempuan di Gereja Protestan Maluku (GPM) dan kariernya dalam penerapaan kesetaraan gender di tengah heterogenitas seks pelayan. Suatu studi yang tidak membahas tentang benar tidaknya dogma Kristen yang dianut tentang masalah kesetaraan melainkan akan penerapannya dalam institusi yang menerapkan kepemimpinan collegial dengan melibatkan para presbiter dalam heterogenitas seks pelayaan sebagai praktisi pelayanan di mana pendeta perempuan menjadi bagian integralnya dalam pemberlakuan kesetaraaan gender sesuai dasar pemahaman kristen. Studi ini bertujuan menemukan penyebab terjadinya penyelewengan penerapan kesetaraan gender di GPM yang sangat mengakui dan telah menjamin penerapannya serta dampaknya terhadap karier pendeta perempuan di GPM. Kerangka teoritik yang digunakan untuk pengkajian dalam penelitian ini adalah teori Dualitas Struktur Anthony Giddens yang menganalisa proses pembentukan konstruksi subordinasi pendeta perempuan dalam pemahaman umat dan praktisi pelayanan GPM yang secara dialektik juga melahirkan suatu kesadaran akan perlakuan yang diskriminan, yang diderita oleh pendeta perempuan dalam kariernya di GPM sehingga melahirkan agensi untuk mengubah status The Second Sex yang dilekatkan padanya dengan identitas diri berdasarkan Firman Tuhan dalam Alkitab sebagai tindakan rekonstruksi struktur demi terwujudnya suatu equilibrium di GPM dan di dunia kemana misi gereja ini tersebar. Dikaji dengan metode fenomenologi dengan teknik observasi lapagan, studi dokumen dan wawancara yang melibatkan delapan orang informan guna memahami pemahaman para informan akan isu yang diteliti dan menarik makna dari setiap fenomena yang dialami oleh para informan berkaitan dengan masalah penelitian ini. Studi ini menghasilkan simpulan bahwa GPM sebagai institusi telah menerapkan prinsip kesetaraan dalam peraturan organisasinya walaupun tidak ada bahasan spesifik tentang hal ini dalam peraturan organisasinya. Dan penyelewengan akan kesetaran gender yang melahirkan bentuk-bentuk diskriminasi terhadap pendeta perempuan dalam kariernya di GPM tidak dilakukan oleh GPM sebagai institusi melainkan oleh orang per orang dan kelompok yang terlibat dalam kepemimpinan collegial. Sebagian pendeta perempuan menyadari kondisi terdiskriminasinya sementara sebagian lainnya melanggengkan kondisi ini lewat penyangkalan dan penerimaan pengsubordinatannya sebagai suatu konsekuensi logis yang diperkuatkan oleh konstruksi patriarki. Kata kunci : Gereja Protestan Maluku, Pendeta perempuan, Gender.
Kata Kunci : Resolusi Konflik