Laporkan Masalah

Kegagalan Manajemen Konflik Etnik Di Sri Langka Pada Masa Pemerintahan Presiden JR.Jayewardene 1978-1988

ARIS Herbandang,

1999 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Setelah perjalanan panjang konflik selama lebih kurang tiga puluh tahun, akhirnya Aceh berhasil mengakhiri konflik melalui penandatanganan nota Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005. Salah satu agenda penting yang mendesak untuk segera direalisasikan yaitu proses rekonsiliasi. Proses ini bertujuan untuk mempertahankan perdamaian yang telah diraih. Hal ini berarti tidak hanya bertindak sebagai penyelesaian konflik tetapi juga transformasi konflik. Pada konteks konflik Aceh, proses rekonsiliasi menjadi agenda yang segera dilaksanakan setelah kedua pihak bertikai sepakat untuk mengakhiri konflik. Kehadiran proses rekonsiliasi diharapkan tidak hanya mendukung bagi keberlangsungan perdamaian di Aceh, tapi juga dapat menjadi media penyembuhan trauma pada masyarakat terutama para korban konflik. Hal yang menarik pada proses rekonsiliasi konflik Aceh yaitu adanya peran kesenian Aceh. Kesenian Aceh dalam konteks ini berperan sebagai salah satu media pendukung proses rekonsiliasi Aceh. Dukungan yang begitu besar dari komunitas seni Aceh menjadikan proses rekonsiliasi Aceh menjadi menarik dibanding konflik-konflik lain. Peran kesenian Aceh lebih lanjut menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi instrumen penting bagi proses dan pemeliharaan perdamaian. Pada proses rekonsiliasi Aceh ini, kesenian Aceh mempunyai tiga peran utama yaitu pertama sebagai media pemersatu dan pemulihan hubungan antar kelompok. Kedua sebagai media penyampai pesan perdamaian. Terakhir, kesenian Aceh berperan sebagai media pemulihan trauma bagi masyarakat Aceh secara keseluruhan dan terutama bagi para korban konflik. Peran pertama sebagai media pemersatu dan pemulihan hubungan antar kelompok ditunjukkan terutama melalui Tari Saman, Seudati dan juga kesenian Didong. Rapai dan musik kontemporer Aceh banyak berperan sebagai media penyampai pesan pesan perdamaian. Namun, tak dapat dipungkiri pada dasarnya semua kesenian Aceh berperan sebagai penyampai pesan damai terutama pada proses rekonsiliasi ini. Pencapaian perdamaian dan proses rekonsiliasi Aceh telah banyak membawa perubahan bagi kondisi Aceh. Proses rekonsiliasi yang dijalankan melibatkan banyak pihak seperti halnya komunitas seni dan masyarakat secara keseluruhan. Proses rekonsiliasi secara tidak langsung juga telah membantu kebangkitan kembali kesenian Aceh setelah sempat meredup selama konflik terjadi. Sehingga dapat dikatakan bahwa kesenian Aceh mendukung proses rekonsiliasi, dan rekonsiliasi pun mendukung kebangkitan kesenian Aceh. Ada pola hubungan yang saling menguntungkan dalam proses ini. Tesis ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar master dari Program Pasca Sarjana Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada. Tesis ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan yang dapat digunakan pada penelitaian-penelitian lain, yang berkaitan dengan penggunaan kesenian sebagai salah satu media penting pendukung proses rekonsiliasi Kata Kunci : Kesenian Aceh, rekonsiliasi, konflik Aceh, pemulihan trauma

Kata Kunci : Kegagalan Manajemen


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.