Laporkan Masalah

Isu Keamanan dalam Reunifikasi Korea: Kepentingan dan Upaya Korea Selatan

LISTYOWATIE, Isty Prisniwi,

2000 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Kelebihan NGI sebagai majalah terdapat pada karakter fotonya. Foto di NGI dibuat dalam waktu yang panjang dan melebur ke dalam “atmosfer” objeknya, sehingga karakter foto NGI memiliki kekhasan dibanding foto pada media cetak yang lainnya1. Di sisi lain, foto yang terdapat di media massa (foto jurnalistik) tidak hanya berkutat pada teknis pengambilan saja, yang meliputi kecepatan rana, diafragma, dan asa film, akan tetapi juga mempunyai ideologi tertentu yang menjadikan foto tidak hanya sebagai bukti atau pelengkap teks saja, tetapi juga sebagai representasi dari realitas yang dapat memengaruhi dan membentuk suatu kebenaran tertentu terhadap pembacanya. Foto pada artikel “Hutan Yang Coba Bertahan” tidak semata-mata merepresentasikan hutan Kalimantan, tetapi secara tidak langsung juga merupakan representasi dari sesuatu yang tersembunyi. Muncul pertanyaan, bagaimana pemberitaan hutan Kalimantan direpresentasikan melalui foto oleh majalah NGI? Ranah komunikasi yang akan kita bicarakan di sini bukan hanya terletak pada proses penyampaian pesannya, melainkan lebih dititikberatkan pada komunikasi sebagai pembangkitan makna; the generation of meaning. Pembangkitan makna yang terjadi dapat bekerja dengan penciptaan tanda-tanda, maka kajian semiotik digunakan untuk membahas proses tersebut. Penelitian ini mengunakan teori semiotika Roland Barthes (1915-1980), karena semiotika Barthes tersusun atas tingkatan-tingkatan sistem bahasa (teks) yang dapat melihat apa dan bagaimana representasi sebuah foto. Melalui penelitian ini, disimpulkan bahwa perilaku manusia yang bersikap antroposentris dianggap sebagai penyebab kerusakan hutan Kalimantan. Inilah stereotyping yang dilakukan NGI melalui foto-foto jurnalistik di atas. Pada artikel “Hutan Yang Coba Bertahan“, secara fotojurnalistik ditemukan bahwa caption foto menjadi unsur yang penting untuk mengarahkan audience. Lebih jauh, caption foto juga menjadi alat untuk menyebarkan ideologi NGI yang berpihak kepada dunia barat,karena foto jurnalistik tidak hanya memberitakan sebuah fenomena, tetapi juga menjadi alat untuk menyebarkan ideologi tertentu. Sikap antroposentris merupakan proses stereotyping NGI terhadap masyarakat negara berkembang. Proses stereotyping pada dasarnya dikonstruksi NGI melalui mitos yang dibangun NGI untuk menggiring audience kepada suatu pemahaman yang diinginkan NGI. Yakni mitos bahwa budaya masyarakat negara berkembang tidak mampu melakukan konservasi hutan karena persoalan ekonomi. Subjektivitas NGI tampak pada kedua wacana (ekonomi dan ekologi) yang ditampilkan. Meskipun secara langsung tampak adanya keseimbangan dalam mewacanakan dua kepentingan tersebut, tetapi berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa NGI lebih berpihak pada wacana ekologi. Keberpihakan tersebut tampak pada cara NGI yang terlihat tidak membela kepentingan ekonomi di balik hutan Kalimantan. Artikel “Hutan Yang Coba Bertahan” merupakan pandangan orang Barat terhadap hutan Kalimantan. Hasil penelitian ini menampakkan pandangan negatif dominasi Barat terhadap hutan Indonesia.

Kata Kunci : Pemerintahan - Korea Selatan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.