Laporkan Masalah

Implementasi Hubungan Kerjasama Perbatasan Indonesia - Papua Nugini

PUGU, Melyana Ratana,

2000 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Salah satu isu pembangunan yang penting saat ini adalah masalah kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi berawal dari usia remaja, sehingga remaja menjadi konsen utama. Selain itu, kondisi yang masih labil pada remaja, rendahnya pemahaman remaja tentang pengetahuan kesehatan reproduksi yang benar, serta seksualitas yang masih dianggap tabu, memunculkan penyimpangan reproduksi, seperti seks pranikah, aborsi, dan HIV/AIDS. Namun, disisi lain arus informasi tentang reproduksi semakin deras dan orangtua tidak mampu berperan secara maksimal dalam pendidikan kesehatan reproduksi karena pemahaman orangtua perihal kesehatan reproduksi masih rendah serta konstruksi sosial yang menempatkan seksualitas sebagai masalah yang tabu untuk diperbicangkan di publik. Pendekatan pendidik sebaya (peer educator) dalam pendidikan kesehatan reproduksi remaja dipilih karena faktor teman sebaya menjadi sangat penting dalam transfer informasi tentang kesehatan reproduksi. Efektivitas peer educator dalam program PIK-KRR menjadi entry point dalam pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengambil lokasi di SMA “Demarko”. Informan dipilih secara purposive, kecuali peer educator yang dipilih secara snowball. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik participant observation dan in-depth interview, untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja dilaksanakan melalui program Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) dan peer educator sebagai aktor utamanya. PIK-KRR SMA “Demarko” memiliki sebutan “Subur”. Meskipun kontroversial, pada awal pelaksanaan program, PIKKRR “Subur” langsung mendapat predikat “Tegar” yang merupakan tingkatan tertinggi dalam pengelolaan PIK-KRR. Meskipun demikian, pada tahun pertama kepengurusan PIK-KRR mampu menjalankan semua kegiatan yang telah diprogramkan sebelumnya dan berhasil meraih prestasi sebagai juara 1 PIK-KRR tingkat provinsi. Dalam perjalanan berikutnya, ternyata kinerja peer educator di PIK-KRR “Subur” mengalami penurunan karena komunikasi berjalan satu arah, rendahnya intensitas komunikasi, lemahnya dukungan dan penghargaan yang diberikan sekolah, serta rendahnya motivasi guru pendamping. Beberapa aktor dalam pelaksanaan program PIK-KRR di SMA “Demarko” memiliki kepentingannya masing-masing. Artikulasi kepentingan beberapa aktor mengaburkan tujuan pendidikan kesehatan sehingga program PIK-KRR tidak berjalan efektif. Kata-kata kunci : remaja, pendidikan kespro, pendidik sebaya, efektivitas

Kata Kunci : Hubungan Internasional - Indonesia - Papua Nugini


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.