Laporkan Masalah

Strategi Perjuangan Intifadah Terhadap Israel dan Penolakannya Terhadap Perundingan PLO-Israel

MUTTAQIEM, M, M. Muttaqiem

1996 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Kekuasaan dalam realitas sosial, bukan hanya berputar pada sirkuit struktural yang kaku dalam institusi politik. Akan tetapi, kekuasaan itu berada dimana-mana seperti yang dikemukakan oleh Michel Foucault. Dalam studi ini, menekankan bahwa kekuasaan kekinian memakai jurus baru dan “ampuh” yaitu melalui instrumen media baik itu cetak maupun elektronik, tepatnya tulisan ini lebih menekankan pada media televisi. Televisi menggunakan teks dan diskursus dalam mengkonstruksi dan melanggengkan “kekuasaan”. Dan salah satu tempat berseminya instrumen diskursus adalah program infotainmen. Dan bagian dari diskursusnya adalah pornografi Ariel Peterpan dan Luna Maya. Dalam studi ini, menggunakan metode CDA (analisis wacana kritis) Norman Fairclough, dimana dalam analisis ini, datanya didapat dari teks dalam infotainmen dan hasil wawancara mendalam (indepth interview) dengan pengelola media dan audiens. Teori yang digunakan adalah diskursusnya Michel Foucault dan hegemoninya Antonio Gramsci. Diskursus sebagai “senjata” penakluk dan hegemoni sebagai metode penakluk masyarakat (audiens). Teks atau diskursus dalam program infotainmen tersebut, yang ditayangkan melalui televisi merupakan bagian dari diskursus yang menggemparkan masyarakat tahun 2010. Ariel Peterpan dan Luna Maya, dua artis papan atas yang lagi naik daun saat itu, menjadi lahan subur untuk dijadikan berita bagi program infotainmen. Disaat itu juga, tiga hari berturut-turut (6-8 Juni 2010) rating infotainmen naik 25 persen. Artinya bahwa dengan berita pornografi yang ditayangkan di infotainmen tersebut, infotainmen tidak hanya hadir sebagai informasi atau pun pengetahuan apalagi pendidikan. Akan tetapi, infotainmen menjadi media hiburan yang mengedepankan sensasionalitas berita untuk menarik khalayak atau audiens, demi kepentingan pasar. Dua program Infotainmen yaitu, Silet dan I Gosip Pagi, dan diskursus pornografi di atas, menjadi pintu masuk sekaligus menjadi representasi untuk melacak dan memahami apa sebenarnya terkonstruksi dalam infotainmen. Sesuai dengan analisis wacana kritis, teks merupakan instrumen awal untuk memahami fenomena tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan praktik diskursus dan praktik sosio-kultural. Penelitian ini menemukan beberapa hal penting. Dimulai dari hasil analisis pertama, teks, ditemukan bahwa teks dalam narasi (scripwriter) infotainmen, sangat penuh dengan kata dan bahasa sensasionalitas, metafora dan dramatisisasi yang mengarah pada membesar-besarkan berita. Kedua, praktik diskursus, dengan penjelasan dari pihak pengelola infotainmen (produser/reporter), menjelaskan bahwa infotainmen lebih mengedepankan atau mengejar menariknya berita dengan tujuan profit. Ketiga, praktik sosio-kultural, ditemukan bahwa infotainmen lebih sebagai program yang menghiburkan. Artinya infotainmen telah mampu mengkonstruksi kesadaran palsu dalam kehidupan masyarakat dengan berbalut hiburan dengan gaya hidup. Dari tiga tahapan tersebut, bisa dipahami bahwa infotainmen mengedepan profit, pasar dan kepentingan ekonomi-politik media yang sangat kapitalistik. Kata Kunci: Teks, Diskursus, Pornografi, Infotainmen, Kekuasaan.

Kata Kunci : Hubungan Internasional Palestina


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.