Rivalitas Antar Faksi Dalam Elit Politk RRC : Strategi Jiang Zemin Dalam Mempertahankan Kekuasaan
IGB.SIDDHAJAPA HS,
1998 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalPenelitian ini berjudul “Diskursus Keagamaan dalam Ruang Maya (Analisis Semiotik terhadap Diskursus Keagamaan dalam Halaman Facebook “AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT”). Tema tersebut dipilih karena keberadaan ruang maya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat dewasa ini. Keberadaan Facebook sebagai sebuah ruang publik dalam kebudayaan masyarakat maya yang cukup fenomenal telah menjadikan Facebook sebagai sebuah media alternatif untuk melakukan beragam diskursus keagamaan. Satu hal yang kemudian menjadi pertanyaan mendasar adalah sejauh mana Facebook mampu berperan sebagai ruang yang representatif untuk melakukan dialog keagamaan yang demokratis dan egaliter terhadap berbagai pandangan ataupun keyakinan yang berbeda. Pertanyaan tersebut kemudian dicoba untuk dijawab dengan menggunakan metode analisis semiotika sebagai sebuah cara untuk memahami dan menggambarkan realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Peran semiotika sebagai tool of analysis menjadi penting untuk membongkar makna tanda yang mengemuka dalam teks-teks yang terdapat pada ruang maya, dalam hal ini yaitu Facebook sebagai sebuah media untuk melakukan diskursus keagamaan. Oleh karena itu, sasaran penelitian dalam kajian ini adalah status dan catatan pada page Facebook “AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT”. Penelitian dilakukan dalam dua tahapan, yaitu penelitian historis melalui studi pustaka dan penelusuran internet untuk memahami konteks dari subyek kajian, dan berikutnya adalah interpretasi, yaitu sebuah proses pemaknaan terhadap tanda. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga cara, yaitu dokumentasi, observasi dan wawancara. Selanjutnya analisis semiotika dilakukan untuk membaca tanda pada status yang diunggah dalam page tersebut dengan menggunakan perspektif Barthesian mengenai dua tatanan pertandaan, yaitu denotasi serta konotasi dan mitos. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Facebook ternyata tidak cukup representatif untuk melakukan dialog atau diskursus keagamaan dan cenderung untuk semakin mempertajam konflik sektarian yang ada. Hal ini berkaitan dengan situasi ruang maya Facebook dimana komunikasi yang berlangsung adalah komunikasi yang termediasi, yaitu dengan menggunakan komputer sebagai medianya. Dengan bentuk komunikasi yang demikian, maka peluang untuk terjadinya komunikasi yang terdistorsi menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, ketika kondisi yang demikian dimanfaatkan untuk berbicara mengenai agama dan segala yang terkait dengannya, maka peluang untuk terjadinya konflik menjadi semakin tajam karena persoalan agama adalah persoalan keyakinan yang hanya mengenal benar atau salah, hitam atau putih. Kata Kunci: Facebook, Masyarakat Maya, Diskursus Keagamaan
Kata Kunci : Rivalitas Antar Faksi