Laporkan Masalah

Masalah Integrasi Nasional Di Thailand Selatan ( Kasus Etnis Muslim Melayu)

RUKMI, Wukir Amintari, Wukir Amintari Rukmi

1996 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Tulisan ini membahas mengenai survivelitas tiga raja dalam menyikapi krisis legitimasi dalam petuanan Lisela, Kayeli, dan Tagalisa di Kabupaten Buru. Raja yang dulunya menjadi sebuah kekuatan besar kemudian hilang akibat dari pengaruh rezim yang berkuasan pada masa itu. Setelah itu raja mencoba untuk kembali survive dengan strategi mengkonversi basic kekuasaan berupa modal sosial, modal politik, dan modal ekonomi yang menjadi kekuatan mereka pada masa kejayaannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggambarkan secara rinci tentang keadaan sesungguhnya dari objek penelitian yang didasarkan pada masalah yang dianggap bersifat umum ke khusus. Dalam penelitian ini memperoleh data dari sumber data primer dan data sekunder, dengan teknik pengumpulan data melalui metode wawancara/interview, observasi dan dokumentasi. Hilangnya legitimasi kekuasaan para raja di Kabupaten Buru disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal. Dalam faktor internal krisis yang terjadi berupa perebutan kekuasaan antara anak raja seperti yang terjadi pada raja Lisela, dan juga krisis yang terjadi antara kepala-kepala soa yang ada dalam petuanan Tagalisa. Di petuanan Kayeli krisis yang terjadi lebih disebabkan karena raja yang sudah tidak lagi mengakui keberadaan wakil raja yaitu raja gunung, ini kemudian menyebabkan hilangnya kepercaayan masyarakat adat terhadap kekuaasan para raja. Sedangkan krisis yang disebabkan karena faktor eksternal lebih disebabkan karena kehadiran Negara, krisis yang terjadi di tiga petuanan ini dilihat dari era Orde Lama dan Orde baru. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang di mainkan ketiga raja ternyata berbeda-beda. Ini disebabkan karena penguasaan raja terhadap basic kekuasan juga berbeda. Misalnya raja Lisela yang mempunyai modal sosial yang sangat kuat namun modal ekonomi dan politiknya lemah. Kemudian raja Tagalisa yang mempunyai modal politik sangat kuat namun lemah pada modal sosial dan modal ekonomi. Raja Kayeli yang mempunyai modal ekonomi sangat kuat namun mempunyai modal politik dan sosial yang lemah. Sehingga untuk kembali survive raja mongkonversikan modal-modal yang ada tersebut. Raja Lisela mengkonversikan modal sosialnya untuk mendapat modal ekonominya kembali, raja Tagalisa mengkonversikan modal politik untuk mendapatkan modal sosialnya, dan raja Kayeli mengkonversikan modal ekonomi untuk mendapatkan modal sosialnya kembali. Dari strategi yang dilakukan oleh para raja tersebut dapat dijelaskan bahwa kebangkitan para raja dipengaruhi oleh 2(dua) hal, yang pertama mereka hanya tampil kembali sebagai sebuah simbolik dari sebuah kerajaan yang pernah ada seperti yang dilakukan oleh raja Tagalisa, yang kedua mereka membangkitan kembali simbolik dari sebuah entitas yang pernah diruntuhkan dan dibiarkan hancur pada 1950-an dan 1960-an seperti yang terjadi di petuanan Lisela dan Kayeli. Kata kunci : Strategi Tiga Raja, Survive

Kata Kunci : Politik, Thailand


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.