Laporkan Masalah

Kebijaksanaan Pertahanan Australia Pasca Perang Dingin

NURPRASETYANTI, Susiana, Susiana Nurprasetyanti

1996 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Pada periode pemerintah Presiden Megawati Soekarno Putri, pelaksanaan politik luar negeri Indonesia sangat dipengaruhi pelaksanaannya oleh persoalan domestik Indonesia dan internasional. Dari perspektif persoalan domestik, adalah sebagai akibat dari dampak perubahan sistem politik di Indonesia pada era Reformasi dari otoriter ke demokratis. Keharusan dan tuntutan-tuntutan dari berbagai kalangan pemerintahan dan rakyat Indonesia, untuk menuntaskan dan memenuhi berbagai agenda Reformasi yang konstitusional serta ditambah pengaruh dari diturunkannya Presiden Abdurrahman Wahid oleh lembaga legislatif dari tampuk kepresidenannya dan konflik-konflik komunal serta gerakan separatisme, telah menjadi agenda kerja yang mempengaruhi kinerja kabinet Presiden Megawati. Dari perspektif internasional adalah menyangkut merosotnya citra Indonesia di dunia yang dikaitkan dengan isu pelanggaran HAM dan terorisme sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di Papua, Aceh, Ambon, dan Kalimantan serta peledakan bom di sejumlah daerah di Indonesia. Pada waktu bersamaan Indonesia juga memerlukan bantuan ekonomi internasional namun terhambat dan terganjal dengan isu pelanggaran HAM dan terorisme. Oleh karena itu missi dari pelaksanaan luar negeri Presiden Megawati adalah untuk mencari bantuan ekonomi dan sekaligus berupaya agar dapat meningkatkan citra Indonesia di dunia internasional. Pelaksanaan politik luar negeri Indonesia pada periode Presiden Megawati terhadap kawasan Pasifik Selatan dan Barat Daya dilaksanakan dalam rangka kebijakan melihat ke Timur dengan cara memagari wilayah perbatasan ke arah Pasifik dengan pelaksanaan diplomasi ke kawasan tersebut melalui kerjasama bilateral, regional dan internasional. Kebijakan luar negeri terhadap kawasan Pasifik dimaksud yaitu yang disebut sebagai tiga pilar kebijakan politik luar negeri Indonesia terhadap Pasifik Selatan dan Barat Daya yaitu : pertama, pembentukan forum dialog SWPD; kedua, pembentukan forum dialog Tripartit, dan ketiga, keanggotaan Indonesia sebagai mitra dialog PIF. Upaya diplomasi multilateral tersebut juga didukung oleh pelaksanaan diplomasi bilateral. Dari perspektif hubungan bilateral, Indonesia terus berupaya meningkatkan hubungan bilateralnya dengan negara-negara Pasifik Selatan dan Barat Daya di berbagai bidang, serta memberikan bantuan yang bersifat capacity building di bidang pertanian, keuangan, jurnalistik serta yang bersifat sosial budaya berupa pemberian Dharmasiswa, pelatihan kesenian dan kebudayaan serta pelatihan diplomasi dan kerjasama tehnik. Diplomasi publik dengan cara people to people contact yang dilaksanakan Indonesia secara intens terhadap sejumlah negara Pasifik telah memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang Indonesia oleh mereka yang terlibat dengan berbagai kegiatan tersebut di Indonesia. Dampak yang dirasakan oleh cara-cara seperti ini, walaupun diperkirakan memerlukan jangka waktu yang cukup lama, namun lambat laun akan mengubah persepsi terhadap citra Indonesia kearah yang lebih positif. Perubahan tersebut segera dapat terlihat dari respons positif yang diberikan melalui keikutsertaan berbagai kalangan warga negara/penduduk dari sejumlah negara Pasifik terhadap program-program yang ditawarkan Indonesia. Kontak-kontak langsung dan berlangsung lama akan memberikan pemahaman yang jernih mengenai Indonesia. Upaya-upaya pendekatan diplomasi Indonesia terhadap negara-negara Pasifik baik secara bilateral maupun multilateral melalui PIF khususnya mengenai isu Timor Timur dan Papua, secara bertahap telah dilaksanakan dengan telah berubahnya nada dari isi Komunike Akhir Forum PIF, yang semula mengecam keras namun kemudian ternyata melunak dan pada akhirnya sama sekali tidak terdapat singgungan tentang Papua di dalam Komunike Akhir Forum PIF. Bahkan ternyata pada Komunike Akhir Forum PIF bahkan memberikan dukungan terhadap langkah-langkah yang dilaksanakan pemerintah Indonesia di Papua. Perjuangan dalam memperbaiki citra Indonesia di luar negeri juga telah dilakukan oleh perwakilan-perwakilan Indonesia di luar negeri, diantaranya melalui lobi-lobi yang maksimal serta berbagai loby/pendekatan yang konstruktif, sehingga dalam tingkatan tertentu, dapat mengubah citra Indonesia yang lebih baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan politik luar negeri Indonesia terhadap kawasan Pasifik pada periode Presiden Megawati dilaksanakan dengan menggunakan soft power (kekuatan lunak) dan economic power (kekuatan/bantuan ekonomi).

Kata Kunci : Militer, Australia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.