Laporkan Masalah

Gagasan Pembentukan Republik Indonesia

YUNIRIONO, Bastian,

1997 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Pada penelitian ini penulis melakukan analisis poskolonial terhadap tokoh Minke didalam tetralogi Buru. Permasalahannya adalah bagaimana memaknai peran Minke didalam Tetralogi Buru terhadap narasi historis kebangkitan nasional Hindia-Belanda pada fase awal abad ke-20 melalui analisa terhadap kronologis perjalanan hidup Minke dari ketika ia masih bersekolah hingga ketika ia menjadi seorang pemimpin organisasi SDI. Tujuannya antara lain: 1). Mengetahui bagaimana peranan tokoh Minke dalam konteks emansipasi bangsa Hindia didalam tetralogi Buru bisa dimaknai. 2). Mengetahui tentang bagaimana pertarungan kekuasaan yang terjadi antara tokoh Minke dengan pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang diwakili oleh Pangemanann. 3). Mengetahui tentang sebab-sebab apakah yang mendasari kekalahan Minke pertarungan kekuasaan tersebut. Data penelitian diadapatkan dengan cara melakukan pemilahan-pemilahan terhadap teksteks didalam tetralogi Buru, dan kemudian melakukan kategorisasi terhadapnya. Hal tersebut penulis maksudkan agar potongan-potongan teks tersebut bisa menjadi data terhadap bagianbagian permasalahan yang sedang penulis analisis. Penelitian ini menggunakan metodologi poskolonial dengan menitik-beratkan pada pendekatan kritik orientalisme dan mimikri. Dengan metode penelitian inilah penulis kemudian menganalisa data yang dikumpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientalisme menjadi benteng yang kokoh bagi struktur kekuasaan kolonial. Dalam upayanya untuk membawa bangsa Hindia-Belanda kepada proses emansipasi dan kepada upaya untuk keluar dari struktur kekuasaan kolonialisme dan feodalisme, Minke malah menjadi tersingkir dari organisasi SDI. Proses penyingkiran Minke ini berawal dari hasil analisa politik yang dilakukan oleh Pangemanann. Penulis juga menemukan bahwa didalam rezim kolonialisme, Sindikat Pengusaha Gula Eropa (ALS) memiliki pengaruh dan kekuasaan yang sangat besar, bahkan melebihi kekuasaan dari seorang Gubernur Jenderal itu sendiri. Para orientalis bersama dengan birokrasi kolonial adalah para pelindung kekuasaan dari Sindikat Pengusaha Gula tersebut. Sementara itu, setelah mengalami proses kolonisasi yang sangat panjang, nasionalisme di Hindia-Belanda menjadi bersifat unik karena bukan merupakan bentuk dari nasionalisme kebahasaan, sebagaimana yang terjadi pada negara-negara Eropa. Nasionalisme di Hindia-Belanda adalah nasionalisme yang terbangun berdasarkan garis-garis geo-politik wilayah kekuasaan pemerintah kolonial. Prosesnya tidak terjadi secara alamiah, dalam arti terlalu banyak campur tangan pemerintah kolonial disana. Campur tangan pemerintah kolonial tersebut melingkupi wilayah ekonomi, sosial, politik, dan bahasa. Minke dan Pramudya memiliki kesamaan, terutama dalam hal ideologi, strategi politik anti-kolonialisme, neo-kolonialisme dan feodalisme. Minke misalnya pernah membuat takut tiga negara adidaya imperial seperti, Inggris, Prancis, dan Belanda. Minke adalah orang pertama yang membawa konsep nasionalisme kepada bangsa Hindia dan sekaligus memperjuangkannya. Maka dari itu sosok dirinya menjadi sangat berarti. Kata kunci: Minke, Kekuasaan, Imperialisme, Emansipasi, dan Orientalisme

Kata Kunci : Politik - Indonesia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.