ASEAN -10: Realisasi dan Kendala (Suatu Tinjauan Politics)
DESNITA, Ferry,
1997 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalPenelitian ini menguraikan tentang dinamika faksi atau kubu di internal Partai Golkar pada saat pemilihan gubernur Maluku Utara pada tahun 2007-2008. Dinamika faksi internal Partai Golkar dilihat dari proses menjelang pilkada sampai pasca pilkada. tujuan penguraian dinamika faksi ini untuk mengetahui mengapa terjadi faksionalisme internal Partai Golkar dan bagaimana karakteristik faksi di internal Partai Golkar yang terjadi pada saat pilkada gubernur Maluku Utara tahun 2007-2008. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif riset yaitu dengan mengeksplorasi secara komprehensif dinamika faksionalisme internal Partai Golkar Maluku Utara. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, observasi dan wawancara (indept-interview) kemudian data di interpretasi dalam bentuk deskriptif atau uraian untuk penarikan kesimpulan dan rekomendasi dari penelitian ini Peneliti melacak mengapa terjadinya faksi di internal Partai Golkar Maluku Utara dengan menggunakan dua faktor : Pertama, Struktur dan dinamika sosial politik dan ekonomi yang meliputi patron-klien, pragmatisme elit partai, budaya politik parokhial dan isu politik etnisitas. Kedua, Sistem Partai Golkar yang meliputi struktur organisasi partai, hubungan etnisitas dalam partai, pembuatan keputusan dan proses pemilihan serta asal-usul Partai Golkar Maluku Utara.Selain itu peneliti juga melacaka karakteristik faksionalisme internal Partai Golkar Maluku Utara yang dilihat dari fragmentasi faksi, ins titusionalisasi faksi dan polarisasi faksi. Faksionalisme yang terjadi di tubuh Partai Golkar pada saat pilkada gubernur di Maluku Utara yang peneliti lihat dari proses menjelang konvensi internal Partai Golkar, proses konvensi, proses pilkada sampai pada pasca pilkada. Hasil telaah dari beberapa proses ini penulis mengambil kesimpulan bahwa faksi yang terjadi di internal Partai Golkar disebabkan oleh : Pertama, Pragmatis elit Partai Golkar, hal ini dilihat dari kepentingan para elit di awal perdebatan calo n gubernur dari Golkar. kontestasi elit Golkar yang ingin digandeng Thaib Armayin sebagai wakil gubernur. Rivalitias elit terjadi antara Hasan Doa (ketua DPD I PG), Yamin Tawari (Korwil Maluku-Maluku Utara/wakil DPP PG), Syamsir Andili (ketua dewan penasehat DPD II PG Kota Ternate) tetapi yang dipilih Thaib Armayin adalah Hasan Doa sehingga Golkar pun bergejolak karena kedua elit ini kemudian membentuk faksi dan mendukung Abdul Gafur dalam konvensi. Kedua, Patron-klien, hubungan klientalistik antara Hamid Usman dan Thaib Armayin yang telah terbina lama di Kosgoro 57’ membuat Hamid Usman ngotot mendukung Thaib yang diyakini menang dalam pilkada dengan melihat hasil survey LSI. Hubungan antara Hamid-Thaib bersifat partikularistik. Karakteristik faksi Partai Golkar dilihat dari fragmentasi faksi terpecah mejadi dua kubu (bipolar) yaitu kubu pro Thaib dan kubu pro Gafur. Institusioanlisasi faksi cukup tinggi terutama faksi Hamid Usman. Polarisasi faksi memperlihatkan dinamika konflik yang terus meningkat dan faksi Hamid Usman bersifat sentrifugal karena faksi ini menyimpang dari ketentuan partai sehingga berdampak pada disintegrasi partai dengan berpindahnya elit Golkar ke Partai Demokrat yaitu partai pendukung Thaib Armayin dalam pilkada. Kata Kunci: Partai Politik, Partai Golkar, Faksionalisme internal partai politik
Kata Kunci : Hubungan Internasional - Asia Tenggara