Laporkan Masalah

Barisan Nasional dan Kebijakan Ekonomi Malaysia Pasca 1969

WAHYONO, Sri, Sri Wahyono

1996 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Dari uraian hasil kajian dan pembahasan data diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa gereja ini mampu mengimbangi perubahan yang terjadi dan cenderung berkompromi, sehingga mengakibatkan terjadinya suatu komodifikasi dalam gereja tersebut, dalam berbagai bentuk. Gereja ini juga mampu mempraktekkan kombinasi antara berbagai variasi rasionalitas ilmiah dan teknologi dengan etika konsumen sehingga menumbuhkan suatu simbol iman dalam kehidupan masyarakat modern seperti Kota Solo. Berdasarkan atas hasil penelitian dan analisis data yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa gereja ini mengalami suatu bentuk komodifikasi yang cukup signifikan, yaitu variasi berbagai bentuk persembahan yang bersifat komersil, penjualan simbol – simbol keagamaan dalam lingkup toko kristen, profit material pendeta yang melebihi performance seorang pendeta pada umumnya. Ekploitasi pendengar dan pemirsa melalui siaran keagamaan yang disiarkan melalui televisi dan radio, pemasaran pulsa dengan iming – iming mendapatkan bimbingan rohani gratis. Komoditas ritual keagamaan, yang cenderung mengkomoditaskan tempat – tempat yang dianggap sakral oleh umat Kristen. Berdasarkan atas temuan diatas dapat disimpulkan bahwa keseluruhan bisnis yang dijalankan oleh gereja mampu menopang anggaran gereja, tanpa adanya intervensi dari pihak luar. Prinsip – prinsip mcdonaldisasi dari efisien, prediktabilitas, kalkulabilitas dan menggunakan teknologi, melekat dalam manajemen gereja tersebut, produk kegiatan lebih luas, menyentuh banyak kalangan, cepat dan efisien, efektif. Dengan didukung jargonnya yang berbunyi “save the lost at any cost” (selamatkan yang terhilang berapapun harganya), dengan target jumlah jemaat sebanyak 1 juta orang, mampu membuat jemaatnya terus bertambah dalam hitungan minggu. Bagaimana kemudian dengan menggunakan jargon ini pula, gereja GBI Keluarga Allah mampu menyentuh aspek – aspek yang cenderung tidak terjamah oleh gereja lain, mampu mengontrol dengan baik dengan jumlah jemaat yang banyak. Selain perihal diatas peneliti juga menemukan beberapa hal yang terdapat pada gereja ini, yaitu walaupun berlawanan asas dengan konsep gereja pada umumnya, gereja ini mampu sukses dengan pola pendekatan kepengusahaan yang merubah diri mereka sendiri dan mampu bergeser menjadi suatu megabisnis atau katedral konsumsi bagi jemaatnya, dan sungguh – sungguh memerlukan resiko dengan kompromi keaslian di dalam nama efisiensi market, maka yang terjadi adalah ketidakaslian atas nama kereligiusan. Gereja ini menawarkan kemegahan dan kemewahan untuk menjadi sesuatu yang ditonjolkan sebagai sebuah testimony yang bagus dengan sejumlah respon mekanisme rohani menuju pada budaya global konsumerisme melalui rasionalitas dan komodifikasi. Testimony yang ditawarkan gereja ini memiliki perbedaan testimony dengan gereja pada umumnya, tetapi berhasil melakukan sejumlah mekanisme rohani melalui berbagai bentuk komodifkasinya. Pada jargonnya yang berbunyi “save the lost at any cost” dapat diketahui bahwa fungsi gereja hanyalah melulu menarik massa saja, tetapi sebagai gantinya bersamaan dengan suksesnya gereja ini, institusi ini mampu menawarkan pilihan menarik bagi para kawula muda yang berasal dari rohani yang tradisional atau gereja klasik, untuk membangun kesempatan dalam hal identitas dan life style mereka agar lebih “modern dan religius”. Gereja ini selain sebagai institusi rohani bagi jemaatnya juga terlihat sebagai korporasi, dengan adanya megabisnis yang dikonstruksi sedemikian rupa oleh gereja, mengakibatkan terwujudnya suatu korporasi dalam institusi gereja. Menjadi bagian dari kebudayaan, tetapi dilain pihak mereka juga mampu menjadi counter kebudayaan yang menjadi pioneer bagi gereja – gereja lain. Gereja berusaha untuk menjadi bagian dari dunia tetapi yang terjadi juga menjadi bagian yang dipertentangkan dengan segala hal yang menjadi kelebihan gereja ini. Memasarkan kereligiusan tetapi menjadi counter pemasaran salah satu produk GSM, sehingga yang terjadi adalah overlap rohani, dimana batasan – batasan sekuler menjadi kabur. Pendeta memiliki hubungan, koneksi, serta relasi yang luas dengan gereja – gereja lain yang ada di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri, sehingga yang terjadi adalah dengan mudahnya budaya – budaya global itu masuk dan mengkontaminasi gereja. Sehingga yang terjadi adalah suatu komodifkasi agama menjadi suatu yang normal dalam gereja ini. Pendeta memiliki koneksi yang dekat dengan luar negeri tetapi sebaliknya dengan jemaatnya dia jauh dan tidak intim. Perantara yang bisa menghubungkan pemuka agama dan jemaat serta staffnya adalah teknologi. Memiliki berbagai institusi untuk menyiarkan kotbahnya, lewat televisi, radio, DVD, VCD, bulletin keluarga Allah, buku – buku kotbah dari pendeta Obaja. Memiliki berbagai pelayanan dan fasilitas, pelayanan doa dan pelayanan yang lain dapat melalui sms, telepon, email, dan masih banyak fasilitas lain yang ada di gereja ini, sehingga memudahkan jemaat untuk memilih manakah fasilitas yang lebih efisien. Dengan berbagai layanan yang disediakan oleh gereja, gereja mampu memenuhi hampir sebagian besar kebutuhan jemaat, ada semacam sarana pemenuhan kebutuhan baru dan juga ada pemasaran produk rohani gereja kepada jemaatnya. Gereja ini tidak hanya melayani kebutuhan transidental, melainkan juga kebutuhan – kebutuhan lain, yang lengkap dengan segala sesuatu yang menyertainya. Layanan yang diberikan gereja ini bermacam – macam seperti pendidikan, informasi ekonomi, pekerjaan, dan kebutuhan untuk makan (kafetaria), taman bermain anak, dll. Gereja ini mengelola 7 – 9 macam layanan dalam setiap minggu, dengan bermacam – macam bahasa (Inggris, Indonesia, Mandarin, dan Jawa), ada gereja untuk anak dan remaja, serta layanan yang ditujukan untuk semua kalangan. Implikasi dari adanya prinsip mcdonaldisasi adalah efisiensi yang dimiliki oleh gereja meliputi berbagai hal, mulai dari tersedianya berbagai kebutuhan jemaat, seperti ritualnya, kafe, toko buku, toko multimedia, taman bermain anak, lift, escalator, bus yang disediakan oleh gereja, ATM, dll, tetapi sebaliknya bagi jemaat, hal tersebut menimbulkan inefisiensi, dengan ritual yang semarak, beribadah yang seharusnya dalam waktu yang pendek menjadi lama, tidak efisien ketika harga produk yang dijual dikafe jauh lebih mahal, atau efisienkah ketika transfer menggunakan ATM, jemaat harus mengingat nomor – nomor tertentu dan menekan tombol tertentu pula, serta harus mengambil bukti transfer dan memasukkannya ke amplop, belanja di toko buku atau multimedia, efisienkah ketika pembeli masih harus mencari barang, kemudian membawanya dan membayarkannya ke kasir serta memasukkannya ke pembungkus, efisienkah penggunaan bus untuk antar jemput jemaat, masih harus berdesakan di bus. Kalkulabilitas yang dimiliki oleh gereja dalam hal jumlah jemaat yang dapat terkalkulasi tetapi sebaliknya memunculkan dampak ketidakmampuan dihitung, dalam hal kualitas kereligiusan yang dimiliki oleh setiap jemaat. Kemampuan daya prediksi yang dimiliki oleh gereja dalam hal kontinuitas pelayanan, daya prediksi produk, daya prediksi symbol, dan daya prediksi tingkah laku staff dan pelayan, juga mengakibatkan tidak terprediksinya pelayanan yang diberikan oleh jemaat, kurang terprediksinya makanan yang masih mentah, dan penggunaan teknologi dalam setiap pelayanannya menimbulkan hilangnya kontrol oleh manusia dan mengakibatkan manusia kehilangan kontrol atas dirinya – sendiri. Selain kesimpulan diatas, dapat ditarik kesimpulan lain bahwa gereja GBI keluarga Allah, selain memiliki gejala komodifikasi yang cukup signifikan sampai penggunaan prinsip – prinsip mcdonaldisasi dalam gereja beserta dengan implikasinya, gereja ini mampu menyiratkan hal – hal yang lain. Terdapat cerminan bahwa etika beragama dalam kekristenan tidak lagi menonjolkan pengorbanan, kegiatan keagamaan mengutamakan produk dan bukan proses. Gereja ini juga mampu menerapkan ‘etos’ dalam spirit kapitalisme yang menimbulkan suatu dorongan bagi jemaatnya untuk dapat berhasil dalam kehidupan mereka di dunia. Walaupun mengalami gejala komodifikasi yang cukup signifikan, gereja ini mampu memberikan suatu jalan tengah bagi jemaat melalui berbagai aksi sosial yang diberikan oleh gereja, dengan berbagai variasi.

Kata Kunci : Ekonomi, Malaysia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.