Laporkan Masalah

Dinamika Integrasi Nasional Yaman(1990-1994): Studi tengan Lahirnya Yaman Bersatu dan Munculnya Perang Saudara Mei 1994

ADININGTYAS, Dyah Satya,

1995 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Penelitian ini dimulai dari pertanyaan respons Nahdlatul Wathan terhadap perubahan politik yang diperjelas menjadi: bagaimana ormas ini menentukan preferensi kepartaian dan mengelola penggalangan dukungannya? Untuk menjawab pertanyaan dibuat kerangka pemikiran sebagai landasan teori yaitu perubahan politik, preferensi kepartaian, dan penggalangan dukungan. Dari paparan landasan teoretis, digunakan teori yang relevan untuk menjadi pembahasan pola kolateral antara organisasi dan kepartaian dari Poguntke (2006). Kemudian mengetahui pengaruh elite dan sikap warga NW terhadap preferensi kepartaian dari teori Manheim (1946) dan Weber (1976). Terakhir mengulas penggalangan dukungan dari segi mobilisasi sosial dan partisipasi politik dari Huntington-Nelson (1973). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif diuraikan melalui metode deskriptif. Dengan prosedur pengumpulan data lewat Teknik Wawancara, Dokumentasi (Studi Kepustakaan), dan Diskusi Kelompok Terfokus. Adapun hasil penelitian menunjukkan: pertama, respons terhadap perubahan politik, dari yang senantiasa bergerak di bidang sosial kemasyarakatan kemudian mengalami pemajemukan sebagai kekuatan politik. Pengembangan civil society mengubah konstelasi politik termasuk ormas dalam bekerja sama dengan parpol melalui pola kolateral. Dalam beberapa kali pemilu terutama ditunjukkan pada pemilu 1999 dan 2004, NW relatif mampu mendominasi peran kadernya di lembaga legislatif. Bahkan kekuatan meluas pada kepemimpinan daerah di Lombok Timur. Kedua, preferensi kepartaian dominan dipengaruhi oleh elite atau tokohtokohnya sedangkan warganya yang bercorak paternalistik (spirit patron-client) condong mengikuti dan melaksanakannya. Suatu pengejawantahan dari sikap samiqna waataqna. Elite atau tokoh-tokohnya lebih bersifat elite integratif dari pada sublimatif dengan berpijak pada kharismatika maulana syaikh dan trah tuan guru (charismatic domination). Di masa mendatang, dengan menyimak preferensi kepartaian dari ormas ini, terbuka kemungkinan bagi preferensi politik kepartaian lainnya. Ketiga, dalam mengelola penggalangan dukungan, berlangsung masif yang dilakukan dengan cara tradisional maupun telah terprogram lewat kampanye. Hanya saja yang membedakan, mobilisasi sosial berkembang dari warganya melalui pengaruh tuan guru, jamaah wirid dan satuan tugas. Sedangkan partisipasi politik lebih ditindaklanjuti oleh pengurus parpol yang sebagian besar juga merupakan pengurus struktural ormas ini. Penggalangan dukungan dengan cara tradisional melalui peran ketokohan yang memobilisasi warganya pada setiap kegiatan, terutama dominan pada NW Anjani. Sedangkan NW Pancor melaksanakan penggalangan dengan tahapan program sistematis. Dari segi partisipasi politik cenderung sebagai partisipan yang dimobilisir. Oleh karenanya, demokratisasi di ranah lokal memerlukan intensitas dan kesinambungan. Sehingga relasi antara ormas dan kepartaian makin menunjukkan eksistensinya yang selaras dengan agenda prosedural demokrasi dalam bentuk pemilu. Kata kunci: Respons NW, preferensi kepartaian, dan penggalangan dukungan.

Kata Kunci : Politik - Yaman


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.