Laporkan Masalah

Studi Tentang Proses Penetapan Kebijakan Penetapan Upah Minimum Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

YUWONO R, Respati Yuwono

2004 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Penelitian ini, secara umum ingin menggambarkan pasang surutnya peran Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat dan atau pelaku pembangunan lainnya dalam pengembangan ekonomi regionalnya, melalui peningkatan daya tarik yang berbasis pada salah satu sumber daya alamnya yaitu repong damar sebagai upaya dalam pemenuhan kesejahteraan masyarakatnya. Repong Damar sendiri adalah merupakan salah satu dari wanatani masyarakat Lampung Barat khususnya di daerah pesisir Krui. Konon telah eksis sejak jaman kolonial Belanda, dan secara turun temurun berusaha dijaga kelestarian pengelolaannya oleh masyarakat pesisir Krui. Jika dilihat dari nilai lokalitas, kontribusinya kepada perekonomian serta nilai tambah sosial menegaskan bahwa damar adalah komoditas yang layak untuk dikembangkan. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan jenis penelitian kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diolah dari hasil pengamatan dan wawancara. Sedangkan data sekunder diperoleh dari telaah pustaka/dokumen. Hasil Penelitian ini menggambarkan bahwa pengembangan daya tarik investasi repong damar di wilayah kabupaten Lampung Barat tidak optimal. Faktor-faktor yang menyebabkan pengembangan daya tarik tidak tercapai optimal antara lain Yang pertama, faktor struktural yaitu kondisi tatanan kehidupan petani damar yang terjebak dalam ketergantungan terhadap elit pengelola damar menyebabkan mereka tidak memiliki kapasitas serta daya tawar terhadap elit-elit tersebut. Alhasil terciptanya suatu realism pasar yang menghadirkan iklim bisnis yang tidak kondusif. Kondisi tersebut tentu saja mempengaruhi rendahnya investor untuk menanamkan investasinya atas damar. Yang kedua, faktor politis yaitu dimana damar dimunculkan sebagai komoditas politik untuk mewujudkan kepentingan politis segelintir kelompok serta digunakan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan atau rezim. Terlalu kentalnya nuansa komiditas politik atau politisasi damar mengakibatkan upaya pencapaian pengembangan damar lebih mementingkan hasil daripada proses. Realitas ini tentu saja ikut mempengaruhi optimalisasi pengembagan daya tarik investasi repong damar.Yang ketiga, faktor pergeseran kultural yaitu adanya pergeseran kultural atau preferensi para generasi muda terhadap pengelolaan damar. Para pemuda yang seharusnya menjadi tenaga kerja produktif untuk damar, kenyataannya lebih memilih untuk bekerja dikota daripada harus bersusah payah bertani damar di daerahnya. Hal ini menjadi salah satu rintangan dalam pengembangan daya tarik investasi damar Kata Kunci : Daya Tarik Investasi, Repong Damar, Faktor Struktural, Relasi Politik dan Pergeseran Kultural

Kata Kunci : Upah Minimum-Yogyakarta


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.