Laporkan Masalah

Isu Terorisme dalam Bingkai Majalah Isra:(Analisis Framing Berita Terorisme pada Majalah Isra Rublik Suara Khadijah Edisi Juni - November Tahun 2012)

Dendy H. Nanda , Ana Nadhya Abrar

2016 | Tesis | Ilmu Komunikasi

INTISARI Dendy H. Nanda. (2016). Terorisme Dalam Bingkai Majalah Isra’ (Analisis Framing Berita Isu Terorime Pada Majalah Isra’ Rubrik ‘Suara Khadijah’ Edisi Juni-November Tahun 2012). Dibawah bimbingan Dr. Phil. Ana Nadhya Abrar, M.E.S dan Dr. Muhammad Sulhan, M.Si. Penelitian ini ingin menjawab bagaimana Majalah Isra’ membingkai isu terorisme dalam rubrik ‘Suara Khadijah’ edisi Juni-November tahun 2012. Penelitian ini hanya menggunakan satu majalah sebagai objek kajian. Penelitian menganalisa teks-teks berita mengenai isu terorisme dengan menggunakan perangkat framing Robert. N. Enmant sebagai perangkat analisis, yaitu Define Problem, Causal Interpretation, Moral Evaluation, dan Treatment Recommendation. Hasil penelitian ini menemukan tiga bingkai utama dalam pemeberitaan Majalah Isra’ terkait isu terorisme yaitu, pertama, pelanggaran prosedur hukum. Aparat kepolisian (terutama Densus 88) melakukan pelangaran prosedur hukum dalam upaya proses penanganan terduga pelaku tindak terorisme baik dari segi penggerebakan, penangkapan, penahanan, dan peradilan. Selain itu keluarga terduga pelaku tindak terorisme juga menjadi korban dalam upaya penanganan kasus terorisme yang dilakukan oleh aparatur negara tersebut. Kedua, pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Terduga pelaku tindak terorime dan keluarga telah menjadi korban pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan pemberitaan media arus utama. Dalam upaya pananganan terhadap terduga pelaku tindak terorisme, tindakan detasemen khusus (Densus) 88 sarat akan terjadinya pelanggaran HAM. Semantara itu, penggiringan opini publik oleh media arus utama disebut sebagai pemicu stigma teroris yang melekat pada terduga maupun keluaga. Ketiga, media arus utama tidak netral dan objektif dalam melakukan peliputan terorisme. Pemberitaan yang dilakukan media arus utama kerap kali mendiskreditkan terduga tindak pelaku terorisme dan keluarga. Media arus utama dituding hanya sebagai corong suara pemerintah, dalam hal ini lembaga kepolisian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa posisi Majalah Isra’ dalam melihat isu terorisme adalah ada kecenderungan Majalah Isra’ “membela” terduga pelaku tindak terorisme serta menempatkan aparatur negara dan media arus utama sebagai sumber permasalahan, meskipun sedari awal mereka menegaskan tidak ada agenda khusus untuk membela terorisme. Keywords: Framing, Media, Terorisme, Hak Asasi Manusia (HAM)

Kata Kunci : Terorisme


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.