Laporkan Masalah

Kuasa Budaya Jawa dalam Industri Batik di Yogyakarta:(Studi tentang Reproduksi Kuasa Nilai-nilai Budaya Jawa Pada Praktik Perburuhan dalam Industri Batik Yogyakarta).

Dewi Puspita Rahayu , Arie Setyaningrum

2016 | Tesis | Sosiologi

ABSTRAK Penelitian ini di latarbelakangi oleh sikap kepasrahan dan nrima sebagian besar buruh batik di Yogyakarta di tengah kondisi upah murah yang mereka terima. Di dalam tulisan ini, peneliti berusaha membahas tentang keterkaitan nilai-nilai budaya Jawa terhadap ketidakberdayaan buruh batik tersebut melalui pertanyaan penelitian yakni bagaimana kuasa pengetahuan mengenai nilai-nilai budaya Jawa membentuk wacana perburuhan dalam industri batik; Bagaimana proses reproduksi wacana perburuhan dalam industri batik tersebut di dalam praktik kerja buruh batik Yogyakarta; dan adakah bentuk eksploitasi dari sistem perburuhan yang demikian serta bagaimana bentuk eksploitasinya. Penelitian ini menggunakan teori kuasa-pengetahuan yang dikemukakan oleh Michel Foucault untuk menganalisis relasi kuasa yang bekerja di balik wacana buruh batik Yogyakarta serta proses reproduksi pengetahuan mengenai nilai-nilai budaya Jawa di dalam relasi kerja antara buruh batik dan majikan. Adapun pendekatan yang digunakan adalah genealogi Foucault yang bertujuan untuk melihat proses penerapan kekuasaan (pengetahuan) dalam praktik kerja perburuhan batik. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah purposive, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara mendalam. Berdasarkan hasil pelacakan historis wacana perburuhan di dalam industri batik Yogyakarta ditemukan bahwa nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup masyarakat Jawa yakni Harmoni dan Struktural fungsional direproduksi ke dalam dua bentuk. Pandangan hidup mengenai Harmoni dilanggengkan melalui bentuk kolektivisme, sedangkan pandangan hidup Struktural fungsional dilanggengkan oleh adanya sistem paternalisme dalam hubungan kerja perbatikan. Representasi dari nilai-nilai harmoni ini ditunjukkan melalui proses pengerjaan batik yang tidak dapat dikerjakan sendiri melainkan harus bersama-sama antara pekerja satu dengan yang lainnya. Sementara itu, representasi dari pandangan struktural fungsional ini ditunjukkan melalui proses reproduksi pengetahuan mengenai posisi majikan mau pun buruh. Ada pun bentuk reproduksi pengetahuan mengenai posisi majikan antara lain pengetahuan posisi majikan sebagai saudagar, majikan sebagai sosok figur orang tua bagi bawahannya dan posisi majikan sebagai pihak yang memiliki kuasa. Sedangkan bentuk reproduksi pengetahuan mengenai posisi buruh batik antara lain pengetahuan mengenai posisi buruh sebagai seorang pengrajin batik, penerimaan diri seorang buruh batik sebagai bawahan dan penerimaan diri buruh batik sebagai wong cilik. Dalam hal ini bahasa Jawa dan batik adalah alat utama untuk mereproduksi nilai-nilai Jawa tersebut. Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa pandangan dunia Jawa yang strukturalis tersebut ternyata dapat memperkuat keberadaan sistem kelas dan memicu dominasi kaum kapitalis terhadap kaum pekerja sehingga posisi buruh batik sangat rentan terhadap eksploitasi seperti kebijakan pengupahan dan jaminan sosial dari majikan yang tidak pro buruh serta pemanfaatan buruh batik sebagai aktor peraga dalam ruang display membatik untuk menarik minat dan simpati para wisatawan terhadap kesenian batik. Kata kunci: buruh batik, majikan, budaya Jawa, reproduksi pengetahuan, genealogi.

Kata Kunci : Kebudayaan - Yogyakarta


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.