Laporkan Masalah

Negara dan Nasib Minoritas Syiah di Sampang

Johan Wahyudi, Cornelis Lay

2015 | Tesis | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan

Intisari Pelacakan terhadap kegagalan negara dalam menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia menunjukkan adanya ketidakseksamaan teoritis terkait teorisasi negara. Dalam tataran praktis kasus Sampang, sulit untuk berharap negara mampu bersikap adil dan tidak berpihak terhadap salah satu kelompok sosial. Hal ini sedikit banyak terkonfirmasi secara empirik dalam studi ini. Negara tidak mampu bertindak netral atau otonom ketika menjalankan setiap pilihan kebijakan yang diambilnya karena senantiasa berhadapan dengan desakan kelompok sosial dominan tertentu dalam masyarakat. Sehingga pada saat yang sama pula, bayangan Karl Marx tentang negara sebagai komite eksekutif dari kelompok sosial yang menguasai alat produksi juga terkonfirmasi, meskipun dalam nalar yang berbeda. Penelitian ini mengungkap kegagalan negara melalui kasus yang menimpa komunitas muslim Syiah di Sampang (26/8/2012). Konsep mainstream dari Martin van Bruinessen, kerangka konseptual hegemoni Gramsci serta teori tentang negara dipinjam untuk mengkerangkai kajian ini. Sementara analisa wacana digunakan untuk menguak praktik diskursif dan hegemonik di balik dominasi pewacanaan yang direproduksi oleh kelompok keagamaan mayoritas. Studi ini menyepakati karakteristik negara kuat sejak Orde Baru hingga saat ini. Hal ini, misalnya, ditandai oleh keberhasilan negara melakukan penetrasi dalam kehidupan masyarakat terutama kehidupan keagamaan, melalui UU No. 1/PNPS/1965 tentang Larangan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Hanya saja, pada praktiknya, negara tetap saja tidak bisa bersikap otonom dan bebas dari campur tangan salah satu kelompok sosial saat mengambil kebijakan. Hingga akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa negara gagal atau tidak mampu memproteksi kelompok minoritas Syiah karena negara telah diambilalih oleh kelompok keagamaan mayoritas melalui konstruksi ideologi keagamaan. Dengan memanfaatkan instrumen negara, kelompok mayoritas dominan mampu menubuhkan wacana keagamaan melalui instrumen - instrumen ideologis yang tercermin dari pilihan kebijakan yang diambil oleh negara. Beberapa kebijakan yang dipilih sekaligus juga menunjukkan ketidakmampuan negara untuk menjaga otonominya sendiri, seperti; relokasi kelompok minoritas Syiah Sampang berbasis fatwa kyai, membangun wacana sesat dan isu penodaan agama, serta wacana - wacana hegemonik lainnya. Dengan kata lain, bisa disimpulkan bahwa negara tidak lagi bekerja atas nama seluruh kelas sosial dalam masyarakat, setidaknya, kasus di Sampang, menunjukkan bahwa negara telah bergeser menjadi milik kelompok keagamaan Sunni. Kata-kata kunci: Kelompok Minoritas, Kelompok Keagamaan Mayoritas, Hegemoni Ideologi, Konstruksi Wacana

Kata Kunci : Negara


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.