Laporkan Masalah

Kelas Menengah & Kondisi Deliberatif Pertukaran Informasi Kompasianer Pada Masa Kampanye Pilkada DKI Jakarta 2012 dan Pemenuhannya Terhadap Kondisi Deliberatif

NUSWANTORO, A. Ranggabumi, ---

2014 | Tesis | Ilmu Komunikasi

KESIMPULAN A. PENINGKATAN KONDISI DELIDERATIF BAGI KELAS MENENGAH Dari data yang dihasilkan dalam penelitian mengenai pertukaran informasi Kompasianer245 dan kualitas kondisi deliberatif dapat dinyatakan bahwa informasi yang dipertukarkan oleh Kompasianer telah memuat setidaknya beberapa hal subtantif seputar deliberatif yakni mulai dari 1) tawaran program dan kebijakan dari kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk mengatasi masalah publik (macet, banjir, air bersih, dan sebagainya), 2) karakter kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, 3) dinamika koalisis/dukungan partai politik terhadap kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, 4) tata kelola pemerintah provinsi DKI Jakarta, hingga 5) kualitas penyelenggara pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta tahun 2012. Namun demikian pada pengukuran selanjutnya mengenai kualitas kondisi deliberatif ditemukan bahwa kualitas demokrasi kelas menengah sebagaimana ditunjukkan oleh Kompasianer belum baik. Setidaknya hal tersebut ditunjukkan dengan masih sedikitnya informasi maupun diskusi yang memuat indikator kondisi deliberatif, sebagai salah satu syarat terwujudnya demokrasi deliberatif246. Melihat hasil ini bisa disimpulkan bahwa kelas menengah yang direpresentasikan oleh Kompasianer, yang memposting ke-106 tulisan selama masa kampanye Pilkada DKI Jakarta, harus ditingkatkan kapasitas demokrasinya. Hal tersebut pertama-tama dilakukan lewat admin Kompasiana, artinya admin harus lebih aktif mendorong diskusi-diskusi yang 245 Selama masa kampanye putaran pertama dan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2012 sebagaimana muncul di kolom “PILKADAJAKARTA” Kompasiana. Jumlah total tulisan yang diteliti mencapai 106 tulisan, terdiri dari 55 tulisan pada masa kampanye putaran pertama dan 51 tulisan pada masa kampanye putaran kedua 246 Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 63 tulisan yang memuat indikator information, 35 tulisan memuat indikator substantive balance, 33 tulisan memuat indikator diversity, 27 tulisan memuat indikator conscientiousness, dan 49 tulisan memuat indikator equal consideration. Secara keseluruhan bisa dianalisis bahwa tulisan-tulisan yang diposting Kompasianer, termasuk komentar-komentar yang menyertainya, selama Pilkada DKI Jakarta khususnya masa kampanye (baik putaran pertama maupun putaran kedua) memuat indikator kondisi deliberatif. Hal tersebut membuat diskusi Kompasianer pada masa kampanye Pilkada DKI Jakarta masuk kategori diskusi dalam kondisi deliberatif, yang berarti berbeda dengan diskusi biasa. Walau demikian kualitasnya masih dalam kategori rendah/belum baik sebab rata-rata dalam tiap tulisan hanya terdapat 2-3 indikator kondisi deliberatif saja. 160 bertema deliberatif, yakni seputar apa dan bagaimana suatu kebijakan publik dihasilkan, juga menyangkut partisipasi ide dan pendapat warga dalam mempengaruhi kebijakan publik tersebut. Sebagai pihak yang memiliki otoritas untuk mengatur jalannya diskusi, admin dituntut aktif mengawal proses diskusi yang ada. Keterbatasan SDM (Sumber Daya Manusia) tidak boleh menjadi halangan bagi Kompasiana untuk mengusahakan kontrol terhadap jalannya diskusi. Hal kedua yang bisa diupayakan adalah menambah kapasitas berdemokrasi yang berfokus pada Kompasianer itu sendiri. Artinya perlu ditingkatkan intensitasnya kegiatan-kegiatan offline yang mampu memberi pengetahuan demokrasi kepada para Kompasianer, seperti diskusi bulanan (modis) atau kopdar (kopi darat) yang menghadirkan narasumber di bidang sosial politik yang bisa memfasilitasi diskusi Kompasianer.

Kata Kunci : Pemilihan Umum -Indonesia; Pemilihan Kepala Daerah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.