Dinamika Institusi Sosial di Tengah Pembangunan :(Studi pada Organisasi Kelola Air Mandiri Masyarakat Giricahyo dan Organisasi Pengelola Air Kaligede Giriharjo dalam Menghadapi Keberlanjutan Proses Pe
UTAMI, Fransiska Romana Catur, Muhammad Supraja
2014 | Tesis | SosiologiABSTRAKSI Pembuatan kelompok sebagai salah satu syarat masyarakat dalam menerima bantuan program pembangunan sudah lumrah terjadi di masyarakat. Bisa jadi, kita pernah terlibat menjadi salah satu bagian dari kegiatan tersebut. Menjadi agen pembangunan maupun menjadi penerima bantuan dengan segala “rekayasa sosial” yang harus kita siapkan tampaknya bukan hal baru di masyarakat. Alhasil, masyarakat menjadi “pintar” dalam membuat kelompok masyarakat dengan cepat. Implikasi dari tindakan yang demikian kedepannya terlihat dari tidak sustainablenya pembangunan karena masyarakat hanya menginginkan insentif dari adanya pembangunan dan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat pada bantuan. Pembangunan dalam hal ini tidak dimaknai secara jangka panjang apalagi misalnya seperti membangun mentalitas masyarakat Indonesia agar lebih mampu bersaing di kancah dunia. Berangkat dari permasalahan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ingin membandingkan sustainability antara pembangunan yang memanfaatkan institusi lokal yang sudah ada di masyarakat dengan mereka yang membentuk institusi sosial baru antara Desa Giricahyo dan Desa Giriharjo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berpendekatan kritis karena ingin melihat bagaimana bentuk kesadaran masyarakat terkait partisipasi mereka dalam pembangunan. Yang ingin dihasilkan dari penelitian ini adalah suatu bentuk emansipatori atau penyadaran posisi mereka di tengah pembangunan. Sebelum melakukan kegiatan observasi guna menggali data lebih jauh, peneliti melakukan pre-observasi dengan maksud berkenalan sekaligus membaca karakteristik dan kebiasaan masyarakat. Kemudian setelah pendekatan terjalin dengan baik, akan memudahkan peneliti menlisik lebih dalam terkait dinamika yang terjadi dalam organisasi kelola air mandiri (OKAM) dan juga organisasi pengelola air kaligede (OPAKg). Pada saat pengumpulan data dilakukan, peneliti sekaligus melakukan kroscek data dengan melihat langsung fakta di lapangan atau dengan menanyakan dengan pihak yang dinilai memiliki potensi untuk dikroscek. Sedangkan analisis data dilakukan setelah data terkumpul dan dilakukan pengkodean. Dari metode yang digunakan dalam penelitian ini ditemukanlah hasil bahwa OKAM sebagai institusi sosial bentukan baru ternyata tidak mampu bertahan di tengah pembangunan. Hal ini dikarenakan adanya pendiktean yang dilakukan oleh pemerintah secara tidak langsung pada saat pembentukan OKAM. Di satu sisi, masyarakat Giricahyo diajak untuk memiliki karakteristik organisasi modern, di sisi lain, masyarakat belum sepenuhnya meninggalkan nilai-nilai lokal. Sedangkan yang terjadi pada OPAKg adalah lebih sustainable daripada OKAM karena memang penggunaan teknologi karena memang penggunaan teknologi disesuaikan dengan karakteristik dan kapasitas masyarakat setempat. Tetapi OPAKg tetap berada dalam bayang-bayang sebuah komunitas mahasiswa. Dinamika yang terjadi pada OPAKg yaitu ketergantungan di balik kemandirian Kata kunci: Pembangunan, institusi lokal, dan sustainability.
Kata Kunci : Sumber Daya Manusia