Laporkan Masalah

LSM dan Pemberdayaan Perempuan :(Studi pada LSM Yayasan Sahabat Ibu di Yogyakarta).

WIDIANTO, Ahmad Arif , Suharko

2014 | Tesis | Sosiologi

ABSTRAK Banyaknya permasalahan yang dihadapi perempuan dan kegagalan pemerintah dalam mengatasinya memunculkan upaya pemberdayaan oleh LSM. Salah satunya adalah Yayasan Sahabat Ibu (YSI) yang melakukan pemberdayaan perempuan melalui program-programnya yaitu PROSIBU (Program Santunan untuk Ibu), PRIMA (Program Ibu Mandiri), PINTAR (Program Ibu Cerdas dan Terampil). Namun permasalahannya adalah setiap LSM memiliki strategi berbeda yang turut mempengaruhi hasil pemberdayaannya. YSI sendiri banyak menerapkan praktik-praktik keagamaan dalam proses pemberdayaan. Di sisi lain pengurus YSI terlibat aktif dalam politik praktis sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dari latar belakang tersebut, penelitian ini mempertanyakan (1) bagaimana strategi pemberdayaan perempuan YSI? dan (2) sejauh mana upaya tersebut mampu memberdayakan perempuan?. Tujuannya adalah untuk mengetahui strategi dan hasil pemberdayaan perempuan oleh YSI. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretif. Untuk pengumpulan data, penelitian ini memakai teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Unit analisis data penelitian ini adalah kelompok perempuan sasaran YSI di Sintokan (Cangkringan, Sleman), Pundong dan Rajek Lor (Tirtoadi, Mlati Sleman), Patukan (Gamping, Sleman) dan Jetis (Kota Yogyakarta). Sumber data penelitian ini adalah pertama informan, yaitu staf, fasilitator dan kelompok perempuan sasaran YSI serta pemangku kepentingan yang terkait. Kedua, dokumentasi berupa laporan, publikasi dan referensi terkait. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa YSI mempraktikkan strategi pemberdayaan yang dilakukan pada kelompok perempuan sebagai media dan sasaran intervensi (mezzo) melalui pendidikan (PINTAR), permodalan dan pelatihan (PRIMA) serta bantuan karitatif (PROSIBU). Strategi tersebut dipengaruhi oleh paradigma YSI yang reformis dalam memandang permasalahan perempuan sehingga YSI hanya memenuhi kebutuhan praktis perempuan. YSI juga menerapkan praktik-praktik keagamaan -seperti ikrar anggota dan fasilitator, akad peminjaman modal, infaq pengembalian modal dan pengajian- sebagai pendekatan sekaligus instrumen untuk melancarkan program dan mendidik perempuan. Hal tersebut dipengaruhi latar belakang pengurus YSI yang aktif dalam gerakan dakwah. Aktivitas tersebut kemudian ditransmisikan dalam pemberdayaan. Pada kenyataannya, Program-program pemberdayaan perempuan YSI terindikasi sebagai agenda politis dari PKS di bawah kendali Pos Wanita Keadilan (Pos-WK) meskipun YSI berada di luar struktur organisasinya. Meskipun demikian perempuan sasaran dapat menikmati manfaat darinya karena YSI juga mengakomodasi kebutuhan dan aspirasi perempuan melalui advokasi meski belum sampai pada politik (affirmative action). Berdasarkan analisis Longwe, pemberdayaan YSI mampu meningkatkan pendapatan perempuan, membuka akses perempuan pada sumber daya produktif, membentuk kesadaran kritis perempuan pada peran gender, namun kurang membuka ruang partisipasi dalam perumusan, pelaksanaan dan monitoring program, kontrol perempuan atas pendapatan menguat namun kurang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam keluarga karena masih dipengaruhi pola pikir patriarkhis. Kata Kunci: Masalah Perempuan, LSM, Pemberdayaan Perempuan

Kata Kunci : Pemberdayaan Perempuan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.