Laporkan Masalah

Politik Perdagangan Di Asia Tenggara Pasca Krisis Asia 1997

JAMAL, M. Mochtar Masoed

2013 | Tesis | Ilmu Hubungan Internasional

ABSTRAKSI Perdagangan antar negara di Asia Tenggara pasca krisis Asia 1997 masih didominasi oleh perdagangan ekstra regional dengan China, Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa sebagai mitra dagang utama. Perdagangan intra regional berada di kisaran 25%. Sektor manufaktur memiliki tingkat kontribusi paling besar. Peran dominan sektor manufaktur berkelanjutan sejak 1980-an ketika kawasan tersebut dilanda krisis dan mulai mentransformasi perekonomian dari berbasiskan sektor pertanian menjadi berbasiskan sektor manufaktur yang dipengaruhi oleh foreign direct investment (FDI). Politik domestik berperan penting terhadap terjadinya kenyatan tersebut. Mayoritas pemerintah di Asia Tenggara meyakin bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan sumber penting legitimasi politik. Kelemahan finansial aktor politik melahirkan patronase dengan aktor ekonomi. Patronase tersebut menciptakan konsentrasi aktor bisnis di lingkungan kekuasaan. Krisis Asia 1997 tidak merubah struktur koalisi di Asia Tenggara bahkan di negara yang mengalami perubahan politik pasca krisis 1997, seperti Indonesia dan Thailand. Investasi asing semakin berperan penting sebagai mesin pertumbuhan bersamaan dengan patronase antara aktor bisnis dan politik. Negara mengarahkan pembagian wilayah antara modal asing dan modal domestik. Modal asing diarahkan pada sektor manufaktur dan modal domestik diarahkan pada sektor non manufaktur. Karena kuatnya hubungan antara modal domestik dan patronase politik, kondisi tersebut menyebabkan hambatan bagi pertumbuhan perdagangan intra regional di Asia Tenggara dan FDI memegang peranan penting berkelanjutan pada pertumbuhan perdagangan ekstra regional. Kata kunci : perumbuhan ekonomi, patronase politik, modal domestik, foreign direct investment (FDI), perdagangan intra regional

Kata Kunci : Ekonomi Politik - Asia Tenggara


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.