Laporkan Masalah

Subsistensi Dan Ekonomisasi Hutan (Studi Kasus Pemanfaatan Kayu Hutan Rakyat di Kabupaten Gunungkidul)

WIYONO, Eko Budi, Heru Nugroho

2012 | Tesis | Sosiologi

Pada satu sisi, karakteristik pengelolaan hutan rakyat bersifat individual, tidak responsif, subsisten, dan dipandang sebagai tabungan bagi keluarga pemilik hutan rakyat dihadapkan pada situasi peningkatan kebutuhan bahan baku oleh industri kehutanan. Apakah dalam prosesnya, telah terjadi pergeseran akan kayu rakyat untuk pemenuhan kebutuhan keluarga menuju kebutuhan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mencari penjelasan sosiologis tentang pemanfaatan kayu hutan rakyat untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi petani dan sekaligus memenuhi permintaan pasar, apa dan kapan bentuk-bentuk komodifikasi yang terjadi dihutan rakyat, serta faktor-faktor apa yang mempengaruhi komodifikasi tersebut. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Gunungkidul dengan mengambil satu desa sebagai unit kajian, yaitu Desa Girisekar,Kecamatan Panggang. Untuk mendalami karakteristik hutan rakyat, mekanisme kerjanya, dan makna-makna yang terjadi berfungsinya hutan rakyat untuk pemenuhan kebutuhan keluarga dan pemenuhan kebutuhan pasar, maka pendekatan yang digunakan adalah berupa diskursus teori peasant dan subsistensi, teori moralitas James Scott dalam konteks pengelolaan hutan rakyat. Sedangkan untuk melihat tekanan pasar dan komodifikasi hutan rakyat akan coba di dekati dengan teori ekonomi pasar.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, a) Pemanfaatan kayu hutan rakyat mempunyai makna yang berbeda antara petani dan pedagang. Pemanfaatan kayu hutan rakyat bagi petani, berfungsi agar mereka tetap survive dalam hidup dan sebagai cadangan pemenuhan kebutuhan keluarga. Fenomena inilah yang kemudian dikenal dengan subsisten kultural, dimana pengembangan hutan rakyat oleh masyarakat merupakan way of life untuk mempertahankan hidupnya. Pada level pedagang, makna pemanfaatan kayu hutan rakyat cenderung untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. b) Penetrasi pasar merasuk ke hutan rakyat masuk melalui pedagang, dimana para pedagang kayu rakyat melakukan transaksi penjualan kayu hutan rakyat dengan petani. Keberadaan pasar melalui proses transaksi penjualan kayu antara petani dengan pedagang memberikan makna yang simbiosis mutualisme antar keduanya. Keberadaan pasar melalui pedagang merupakan insentif bagi petani terhadap upaya-upaya subsistensi mereka agar tetap survive, sedangkan bagi para pedagang, mereka mendapatkan keuntungan yang besar dari proses transaksi ini dengan memanfaatkan subsistensi kehidupan petani. Inilah yang disebut bahwa pada level petani terjadi logika subsisten dan moralitas ekonomi, sedangkan pada level pedagang terjadi logika ekonomi pasar. Kedua, Komodifikasi hutan rakyat terjadi pada level pedagang sampai industri jika melihat pada rantai distribusi hutan rakyat. Pedagang dan industrilah yang mengubah pohon kayu jati menjadi kayu gergajian atau untuk bahan baku membuat mebel kayu jati seperti furniture, kursi, meja, tempat tidur, rak buku sesuai dengan permintaan pasar. Ketiga, komodifikasi pada level pedagang dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal terkait untuk meningkatkan keuntungan dan faktor eksternal terkait untuk menyesuaikan dengan bentuk permintaan pasar. Kata kunci: Hutan Rakyat, Peasant dan Subsisten, Tindakan Moralitas Petani, Ekspansi Pasar, dan Komodifikasi

Kata Kunci : Kehutanan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.