KONTESTASI WACANA GOLPUT PADA MEDIA ISLAM Analisis Praktik Kewacanaan pada Majalah Sabili dan Risalah Mujahidin Pasca Fatwa Haram Golput Majelis Ulama Indonesia
Denison Wicaksono, Heru Nugroho
2010 | Tesis | SosiologiMenjelang Pemilu 2009, wacana mengenai Golongan Putih (Golput) menjadi sorotan media massa di Indonesia. Terlebih ketika Majelis Ulama Indonesia merilis fatwa bahwa haram hukumnya apabila umat Islam tidak berpartisipasi dalam Pemilu dan memilih calon pemimpin yang sesuai kriteria, atau tidak memilih sama sekali. Fatwa ini dikenal dengan sebutan Fatwa Haram Golput yang menimbulkan kontroversi di kalangan umat Islam sendiri, ada kelompok yang mendukung dan ada pula kelompok yang menolak fatwa tersebut. Kontroversi tersebut juga menjadi sorotan media Islam yang juga berpeluang mengkonstruksi wacana melalui teks pemberitaan yang memiliki kecenderungan menolak atau mendukung fatwa tersebut. Penelitian ini bermaksud melihat dan memetakan kecenderungan 2 (dua) media Islam, yakni Sabili dan Risalah Mujahidin dalam mengkonstruksi wacana Golput pasca fatwa MUI. Kemudian setelah bisa dilihat posisi kedua media tersebut, maka dilihat pula alasan dan faktor apa saja yang membuat mereka berposisi dalam ranah wacana Golput. Karena penelitian ini bertujuan melihat praktik kewacanaan yang dilakukan oleh media Islam, maka pendekatan Analisis Wacana Kritis tiga dimensi Fairclough (teks, praktik diskursif, praktik sosio-kultural) dipadukan dengan Teori Praktik dari Pierre Bourdieu untuk menghasilkan analisis wacana kritis yang lebih komprehensif. Karena teori Praktik Bourdieu menyediakan perangkat analisis yang terutama bermanfaat dalam menjelaskan mengapa Sabili dan Risalah Mujahidin menempati posisi sebagai orthodoxa (pendukung wacana Golput haram) atau heterodoxa (penentang wacana Golput haram) terhadap doxa (wacana Golput versi MUI) dengan memetakan modal-modal (modal ekonomi, modal sosial, modal kultural, modal simbolik) dan habitus mereka untuk berpraktik kewacanaan dalam ranah wacana Golput pasca fatwa MUI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sabili adalah media yang berbasis industri, sehingga mereka berusaha untuk memperoleh pembaca sebanyakbanyaknya dengan mengkonstruksi wacana yang mendukung wacana dominan (bahwa Golput itu haram). Selain itu, faktor kedekatan Sabili dengan PKS (Pertai Keadilan Sejahtera) juga mempengaruhi konstruksi wacana-nya, karena dengan mengkonstruksi wacana yang menganjurkan pembaca untuk menggunakan hak pilih dalam pemilu bisa semakin membuka peluang bagi PKS untuk meraih lebih banyak suara, oleh karena itu PKS selalu memasang iklan di Sabili. Temuan menarik lainnya adalah bahwa ternyata sebagian awak redaksi Sabili juga bersikap Golput karena alasan ideologis, namun tetap mengkonstruksi wacana dalam teks pemberitaan untuk tidak Golput dalam pemilu 2009. Hal tersebut menegaskan bahwa Sabili tetap mengukuhkan diri sebagai media yang berbasis industri dengan mengutamakan kebutuhan pembacanya yang sebagian besar adalah pendukung PKS. Sedangkan Risalah Mujahidin adalah media yang menjadi “corong” bagi Majelis Mujahidin untuk mensosialisasikan penegakan syariat Islam, dan diposisikan sebagai “media perjuangan”. Risalah Mujahidin cenderung tidak dikelola secara profesional karena awak redaksi yang juga pemegang jabatan di Majelis Mujahidin kurang bisa maksimal dalam mengelola Risalah Mujahidin, sehingga colaps pada Juli 2009. Dalam mengkonstruksi wacana mengenai Golput, Risalah Mujahidin dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran aktivis Majelis Mujahidin (yang beberapa diantaranya pernah dihukum karena tuduhan subversif oleh pemerintah) yang lebih mengutamakan kebenaran yang berkenaan dengan syariat Islam, sehingga Risalah Mujahidin menilai fatwa haram Golput sebagai fatwa yang menyesatkan, karena dalam ajaran Islam tidak ada dalil yang mengharuskan umat untuk memilih pemimpin sebagaimana yang difatwakan oleh MUI. Kata kunci: Golput, Media Islam, Analisis Wacana Kritis, Teori Praktik
Kata Kunci : Majalah