Laporkan Masalah

VOLUNTERISME KOLEKTIF SESAAT DALAM PILKADA (Kasus Kota Kupang - Nusa Tenggara Timur Tahun 2007)

AGUSTINUS MBP FAHIK, Purwo Santoso

2009 | Tesis | Ilmu Politik

Dalam pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kota Kupang tahun 2007, pasangan Adoe-Hurek berhasil mendapat suara 26,71 % dari 150.783 suara sah, setelah berhasil melewati proses politik yang sarat intrik dari partai-partai politik. Dalam pilkada tersebut tampak fenomena perilaku pemilih yang unik dengan mendukung salah satu kandidat, sehingga mampu meraih kemenangan yang menurut perhitungan di atas kertas seharusnya kalah. Jadi apa roh pemenang sebenarnya dalam pilkada Kota Kupang Tahun 2007 ? Studi ini dimaksudkan untuk mengetahui dua hal penting, pertama; bagaimanakah peranan volunterisme dalam pilkada Kota Kupang Tahun 2007?, kedua, faktor-faktor apakah yang berpengaruh dalam membangkitkan volunterisme dalam pilkada ? Data yang dihimpun dari lapangan, akan dianalisis menggunakan analisa data kualitatif model interaktif, yakni analisis dalam uraian atau gambaran tentang suatu gejala atau fenomena sosial tertentu guna mencari pola perilaku pemilih lokal sesuai kerangka konseptual yang ada, untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut. Adapun temuan penelitian adalah tercetusnya volunterisme kolektif sesaat sebagai akibat dari peran antara yang muncul dari adanya upaya-upaya pemenangan dari kandidat tertentu berupa pengorganisasian masyarakat dan politik pencitraan dalam sebuah kompetisi pilkada, yang menghubungkan upaya-upaya pemenangan kandidat dengan modal sosial yang ada pada masyarakat. Jika upaya-upaya tersebut bertentangan dengan modal sosial yang ada dalam masyarakat, maka cenderung akan melahirkan perilaku pemilih yang unik. Volunterisme sebagai aktualisasi dari modal sosial berupa gerakan moral secara spontan yang dilandasi bekerjanya relasi emosional dan sosial dalam suatu kelompok masyarakat akan mendorong lahirnya volunterisme kolektif sesaat sebagai reaksi terhadap suatu situasi yang dianggap tidak normatif. Volunterisme membutuhkan daya dorong untuk dapat muncul ke permukaan, maka peran antara yang dimainkan oleh politik pencitraan dan pengorganisasian masyarakat yang selaras antara upaya-upaya pemenangan kandidat dengan nilai-nilai dalam modal sosial menjadi sangat penting bagi setiap kandidat yang ingin menang dalam pilkada. Modal sosial dimaksud di sini adalah pelembagaan nilai kolektifitas dalam hubungan kekerabatan, nilai komitmen dalam adat belis pada tradisi perkawinan, dan pelembagaan bahasa Kupang sebagai modal sosial. Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh dalam membangkitkan volunterisme dalam pilkada, yakni : a) realitas ketidakadilan terhadap kandidat tertentu, b) tindakan aktraktif yang positif dari kandidat, c) personalitas kandidat, d) intrik politik oleh parpol yang sangat ekstrim, dan e) pemilihan issu-issu strategis dalam kampanye. Kata Kunci : Modal sosial, Volunterisme, Peran antara..

Kata Kunci : Pilkada


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.