Modal Sosial Dalam Eksistensi Koperasi Angkutan Kota Studi Kasus Pada Koperasi Pengusaha Angkutan Yogyakarta (KOPATA)
Lilik Tahmidaten, Sunyoto Usman
2009 | Tesis | SosiologiPenelitian ini melakukan kajian modal sosial pada Koperasi Pengusaha Angkutan Yogyakarta atau KOPATA yang diakumulasi dengan modal-modal lain untuk tercapainya eksistensi dan daya saing ditengah persaingan usaha dan berbagai tekanan yang dialaminya sebagai operator angkutan umum. Penelitian ini berusaha mengidentifikasi gejala atau fenomena secara lengkap dan menyeluruh tentang modal sosial di KOPATA. Untuk itu penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Secara spesifik peneliti menggunakan pendekatan studi kasus (case study). Metode pengumpulan data penelitian ini yaitu melalui wawancara, observasi, dan pengumpulan data-data sekunder dari KOPATA dan sumbersumber lain yang relevan. Analisis studi ini menggunakan konseptual modal sosial sebagaimana disampaikan oleh Fukuyama, Putnam, Coleman, serta teori teori lain dengan mengambil intisari modal sosial dalam bentuk kepercayaan (trust), jaringan (network), dan norma (norms). Modal sosial yang ditemukan dianalisis peranannya dalam eksistensi dan daya saing KOPATA. Teori Putnam digunakan untuk menganalisis peran modal sosial sebagai pendukung pertumbuhan ekonomi, teori Luhman untuk perannya sebagai penyederhanaan kompleksitas (reduction of complexity), dan teori Pierre Bourdieu untuk perannya sebagai strategi investasi kekuasaan simbolik. Berbagai modal sosial yang dimiliki dan dimanfaatkan oleh KOPATA tercermin dari terbentuknya hubungan timbal balik yang didasarkan atas kepercayaan (trust), jaringan (network), dan dilandasi norma diantara KOPATA dengan beberapa komponen yang mendukung kehidupan KOPATA sebagai koperasi maupun badan usaha ekonomi. Beberapa komponen tersebut adalah 1) hubungan timbal balik internal KOPATA, 2) hubungan timbal balik dengan institusi pemerintahan, dan 3) hubungan timbal balik dengan berbagai institusi swasta seperti perbankan serta asosiasi-asosiasi pemerhati transportasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akumulasi modal sosial di KOPATA memberikankan peran penting dalam menunjukkan eksistensi dan daya saingnya. Hal ini dapat dilihat pada kemampuannya mendorong potensi untuk perkembangan ekonomi usahanya dan mampu menyederhanakan kompleksitas usaha di bidang angkutan yang dihadapinya. Modal sosial yang dibangun oleh KOPATA yang dimulai semenjak tokohtokoh perintisnya hingga generasi penerusnya sampai saat ini, menjadi strategi investasi simbolik untuk pengakuan sosial atas jati diri KOPATA dan pengusaha-pengusaha yang ada dalam koperasi tersebut. Penelitian ini juga menemukan bahwa reputasi, dan kemampuan mengelola koperasi beserta berbagai usahanya, pengurus-pengurus yang kompeten serta kemampuan dalam membangun dan menjaga kepercayaan dan jaringan baik secara internal maupun eksternal KOPATA, membuat jajaran eksekutif dan legislatif di Yogyakarta memiliki pandangan positif kepada KOPATA. Meskipun secara khusus KOPATA tidak memiliki perwakilan atau personal yang duduk di jajaran atas eksekutif maupun anggota legislatif dengan membawa identitas atau latar belakang KOPATA. Dengan demikian intinya adalah hubungan timbal balik yang terjalin kuat dan konsisten baik pada internal KOPATA, dengan pemerintah terutama dinas terkait koperasi dan transportasi serta lembaga-lembaga swasta seperti perbankan, asuransi, asosiasi usaha dan transportasi mampu menjadi perantara (broker) KOPATA dalam mendapatkan pengakuan sosial pada tingkat pengambil kebijakan dan keputusan seperti lembaga eksekutif, legislatif, dan berbagai pelaksana kebijakan di instansi pemerintah yang terkait langsung dengan usaha KOPATA. Hal tersebut menjadi sangat efektif bagi KOPATA untuk mengakumulasi modal sosial dengan pemerintah atau dengan pusat kekuasaan yang ada diYogyakarta. Kata Kunci: koperasi angkutan, peran modal sosial
Kata Kunci : Modal Sosial