Laporkan Masalah

KONFLIK KELANGKAAN SUMBER MATA AIR ‘UMBUL WADON’ DESA UMBULHARJO, KECAMATAN CANGKRINGAN, KABUPATEN SLEMAN (Studi Kasus Konflik antara Masyarakat Petani- Komite Rakyat Lereng Merapi dengan PDAM Tir

AUGUSTINNA TUTY INDRAWATY, Nanang Pamuji Mugasejati

2009 | Tesis | S2 Magister Administrasi Publik

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses terjadinya kelangkaan sumber mata air Umbul Wadon dan mengetahui efektifitas kesepakatan AMDAL sebagai proses institusionalisasi manajemen Common Pool Resources (CPR). Dalam tesis ini penulis memberikan alternatif resolusi dalam konflik kelangkaan sumber mata air Umbul Wadon dengan model kolaborasi. Maksud dengan kolaborasi adalah sebuah pengelolaan sumber mata air Umbul Wadon yang dikelola oleh jaringan stake holder yang terlibat dalam pemanfaatan sumber mata air Umbul Wadon dari hulu sampai hilir. Kolaborasi ini bisa dilakukan oleh jaringan formal pemerintah, kerjasama dengan pihak non pemerintah dari hulu sampai hilir. Penelitian ini merupakan penelitian yang deskriptif dengan tujuan untuk memberikan gambaran mengenai subyek penelitian berdasarkan data dari variable yang diperoleh dari kelompok subyek penelitian. Instrumen yang digunakan berupa wawancara yang mendalam, dengan melibatkan masyarakat secara aktif (partisipatif) maupun observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik kelangkaan sumber mata air Umbul Wadon muncul dikarenakan: (1) tidak adanya keterlibatan masyarakat pemakai sumber mata air Umbul Wadon, hulu-hilir dalam kebijakan proyek PDAM Tirta Dharma Sleman; (2) tidak efektifnya AMDAL sebagai proses Institusionalisasi Manajemen Common Pool Resuorces (CPR) dalam konflik sumber mata air Umbul Wadon; (3) tidak ada kebijakan yang mengakomodir persoalan kelangkaan sumber mata air Umbul Wadon secara lintas wilayah hulu sampai hilir. Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa konflik sumber mata air Umbul Wadon sarat dengan konflik laten. Konflik laten ini akan muncul ke permukaan dan menjadi konflik terbuka apa bila kelangkaan sumber mata air Umbul Wadon mulai dirasakan oleh pengguna air sepanjang Kali Kuning, khususnya bagi masyarakat petani. Konflik laten dalam penelitian ini muncul sebagai konflik terbuka dapat dilihat dalam dua tahap, yaitu: (1) konflik I tahun 1999, merupakan pra-proyek instalasi air bersih PDAM Tirta Dharma Sleman; (2) konflik II tahun 2004, merupakan konflik sesudah kesepakatan AMDAL sebagai resolusi konflikl tahap I. Konsistensi mata air Umbul Wadon tidak bisa dilihat hanya pada satu titik saja, tetapi dibutuhkan upaya boundary rule yang komprehensif. Persoalan mata air Umbul Wadon diharapkan dapat dilihat tidak hanya sekedar pembagian air saja tetapi juga memperhatikan suatu cara menjaga mata air Umbul Wadon tetap ada. Hal ini dimungkinkan dengan melakukan upaya penyelesaian konflik mata air Umbul Wadon dengan model kolaborasi sebagai berikut: (1) ada pihak Pemerintah Daerah Tingkat II Sleman dan DIY, juga melibatkan semua pengguna mata air Umbul Wadon, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Sleman dan DIY; (2) Organisasi Pemakai Air (OPA) hulu-hilir; (3) Sektor Swasta, perusahaan air kemasan Evita, Airbas dan Qannat; (4) akademisi sebagai kajian ilmiah terhadap AMDAL; (5) Ornop/LSM yang berkepentingan. Kata-kata kunci: Common Pool Resouces, pemakai air, konflik, konservasi, laten, peraturan, kolaborasi.

Kata Kunci : Konflik; Sumber Mata Air


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.