PENERAPAN MODEL PEMBANGUNAN PARTISIPATIF DALAM DINAMIKA PEMBANGUNAN DI KABUPATEN NATUNA
DAENG RUSNADI, Mudiono
2009 | Tesis | Pembangunan Sosial dan KesejahteraanModel pembangunan partisipatif dalam era reformasi merupakan respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Berbagai program pembangunan lebih banyak inisiatifnya datang dari pemerintah, sementara inisiatif dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Pendekatan pembangunan yang top-down tidak mampu menggerakkan sikap-sikap aktif pada masyarakat sendiri untuk berkreasi dalam pembangunan. Sementaran dalam teori pembangunan menjelaskan, bahwa pembangunan belum dianggap berhasil manakala dalam proses pelaksanaannya belum dapat membangkitkan sikap partisipatif pada masyarakat, sehingga masyarakat sendiri yang akahirnya mampu secara mandiri melanjutkan usaha pembangunan. Mengambil pelajaran dari kegagalan pembangunan sentralistik, Pemerintah Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau, sejak tahun 2006 menerapkan model pembangunan partisipatif dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia. Pendekatan yang digunakan lebih bersifat bottom-up dengan memperhatikan suara dari bawah serta membuka kesempatan secara luas bagi berkembangnya partisipasi masyarakat. Di samping melalui mekanisme politik di Parlemen, pengambilan keputusan sangat mendengarkan aspirasi masyarakat melalui survai sosial dan survai teknis. Mekanisme perencanaan pembangunan daerah dibuat secara partisipatif juga memanfaatkan forum Musrenbang. Studi ini memfokuskan pada masalah Bagaimana pelaksanaan model pembangunan partisipatif dalam kasus pembangunan pada era Otonomi Daerah di Kabupaten Natuna dan Faktor sosial-budaya apa saja yang mempunyai kontribusi dalam mempengaruhi efektivitas penerapan model pembangunan partisipatif di Kabupaten Natuna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan argumen bahwa partisipasi bersifat heuristis dan interatif, yaitu, ia berkembang sambil menemukan pemahaman-pemahaman, yang kemudian mengubah dan membentuk kembali pertanyaan-pertanyaan yang akan ditemukan. Temuan utama penelitian ini adalah bahwa pelaksanaan pembangunan partisipasi di Kabupaten Nautuna meskipun masih belum berjalan secara cepat, tetapi model partisipasi dari bawah (bottom-up) mulai terasa resonansinya. Model partisipasi dari bawah ini dilaksanakan oleh warga masyarakat melalui mekanisme penyusunan RPJM dan RKPT dalam forum Musrenbang. Beberapa faktor sosial budaya mempunyai kontribusi cukup signifikan terhadap efektifnya penerapan model pembangunan partisipatif. Kendala partisipasi dalam pembangunan bersifat struktural sebagai konsekuensi daerah pemekaran, dan bersifat kultural yang tercermin pada berubahnya pandangan masyarakat yang berorientasi pada partisipasi materi dan melemahnya modal sosial, sehingga nilai gotong royong semakin memudar. Model partisipasi yang berlangsung dalam dinamika masyarakat di Natuna lebih dekat dengan teori yang cenderung developmentalistik, dengan peran pemerintah dan elite tetap sebagai motivator dalam menggerakan partisipasi masyarakat. Asumasi developmentalistik mengatakan bahwa strategi pembangunan yang bertumpu pada partisipasi dan pemberdayaan masyarakat berasumsi bahwa masyarakat bukanlah obyek dari pembangunan, tetapi menempatkan sebagai subyek sekaligus sebagai pemangku kepentingan (stakeholders) dan sekaligus sebagai pemegang saham pembangunan. Kata kunci : top-up, bottom-up,pembangunan
Kata Kunci : Pembangunan Daerah