Laporkan Masalah

KINERJA SEKSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PADA KANTOR KECAMATAN MAPANGETKOTA MANADO

ALEX SAMBOW, Samodro Wibowo

2009 | Tesis | S2 Magister Administrasi Publik

INTISARI Kota Yogyakarta merupakan kota yang padat penduduk bila dibandingkan dengan daerah lain di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepadatan penduduk diperkotaan lebih terkonsentrsi di daerah bantaran sungai. Kepadatan penduduk dan sempitnya lahan menyebabkan adanya pencemaran air tanah dan sungai. Semakin banyak pemukiman maka semakin banyak buangan air limbah yang dibangun, sempitnya lahan juga menyebabkan jarak pembuangan dengan sumber air bersih tidak lagi diperhitungkan sehingga bakteri yang ada di tempat buangan dapat meresap ke dalam sumber air. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan dinas kesehatan kota Yogyakarta, 80% air sumur di Kota Yogyakarta tercemar bakteri E.coli yang biasanya berada di pembuangan kotoran manusia, hal tersebut menunjukkan bahwa sistem pembuangan limbah rumah tangga di Kota Yogyakarta buruk. Dari permasalahan tersebut, DLH Kota Yogyakarta melakukan program pembangunan IPAL Komunal untuk mengendalikan limbah rumah tangga yang pengoperasian dan pengelolaannya diserahkan oleh masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program IPAL Komunal serta respon dan partisipasi masyarakat terhadap program tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan September – November 2008 dengan mengambil lokasi RW 22 Notoyudan, Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Analisa data yang digunakan yakni reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Untuk memeriksa keabsahan data maka digunakan teknik ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerima bantuan keuangan dari program IPAL Komunal adalah LPMK. Peran LPMK disini ternyata lebih dominan bila dibandingkan masyarakat setempat. Masyarakat luas hanya dilibatkan dalam tahap pembangunan berupa tenaga. Pembangunan lebih ditekankan pada hasil material (fisik) tanpa disertai dengan pengembangan kapasitas masyarakat lokal. Setelah bangunan selesai tidak ada serah terima dari LPMK ke pengurus RW sehingga mereka tidak tahu apakah IPAL sudah dapat digunakan atau belum. Selain itu pengetahuan warga tentang IPAL Komunal masih rendah, bagaimana cara merawat, menyambungkan dan mengorganisasi, faktor ekonomi juga menjadi faktor penyebab pemanfaatan IPAL Komunal di Notoyudan kurang optimal. Dilihat dari respon masyarakat terhadap program IPAL Komunal cukup baik, IPAL Komunal yang ada didaerah mereka bermanfaat menghilangkan bau yang berasal dari saluran air hujan karena selama ini saluran itu digunakan sebagai tempat pembuangan air limbah domestik.

Kata Kunci : SDM


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.