PARTISIPASI GURU SMP TERHADAP PENERAPAN KAWASAN TANPA ROKOK (STUDI KOMPARASI DI KABUPATEN SLEMAN DAN KABUPATEN KULONPROGO TAHUN 2017)
ARIE KURNIARDI, Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D.
2017 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Asap rokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Asap rokok mengandung ebih dari 7000 bahan berbahaya. Bahan tersebut akan mengakibatkan inflamasi dan kerusakan jaringan. Hal ini yang kemudian dapat mengancam jiwa, baik perokok aktif maupun perokok pasif. Pemerintah, sebagai pelindung dan pembuat regulasi, memiliki tanggung jawab dalam upaya pengendalian bahaya rokok dengan mengimplementasikan 100% kawasan tanpa rokok (KTR) di tempat umum, tempat kerja dan tempat pendidikan. Partisipasi guru dalam menerapkan kawasan tanpa rokok di sekolah sangat menentukan sebagai salah satu upaya pengendalian konsumsi rokok. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan partisipasi terhadap penerapan KTR antara guru SMP di Kabupaten Kulon Progo dan di Kabupaten Sleman DIY. Metode: Jenis penelitian ini adalah survei dengan rancangan penelitian crosssectional. Sampel dalam penelitian ini adalah guru SMP yang diambil dari SMP di Kabupaten Kulon Progo dan SMP dari Kabupaten Sleman. Analisis data penelitian menggunakan uji independent sample t-test. Hasil: Tidak terdapat perbedaan tingkat pengetahuan (0,867), efikasi diri (0,470), status merokok (0,172), dan kebijakan sekolah (0,098) SMP di Kabupaten Kulon Progo dan Sleman DIY. Terdapat perbedaan tingkat aksesibilitas paparan informasi tentang larangan merokok (0,001)dan partisipasi guru untuk menerapkan kawasan tanpa rokok (0,047)di SMP Kabupaten Kulon Progo dan Sleman DIY. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa efikasi diri berpengaruh terhadap partisipasi (0,014), kebijakan sekolah berpengaruh terhadap partisipasi (0,015), dan aksesibilitas informasi berpengaruh terhadap partisipasi (0,001). Kesimpulan: Terdapat perbedaan partisipasi terhadap penerapan KTR antara guru SMP di Kabupaten Kulon Progo dan di Kabupaten Sleman DIY. Faktor yang paling dominan memengaruhi partisipasi guru SMP di Kabupaten Kulon Progo dan di Kabupaten Sleman DIY terhadap penerapan KTR adalah aksesibilitas paparan informasi tentang larangan merokok.
Background: The cigarette smoke is very harmful to health. The cigarette smoke contains more than 7000 hazardous materials. The material will cause inflammation and tissue damage. This can then be life-threatening, both active and passive smokers. The government, as a protector and regulator, has a responsibility in efforts to control the dangers of cigarettes by implementing 100% of non-smoking areas (KTR) in public places, workplaces and educational establishments. The participation of teachers in implementing non-smoking areas in schools is crucial as an effort to control cigarette consumption. Objective: To find the difference of participation to KTR implementation among junior high school teachers in Kulon Progo Regency and Sleman Regency Method: This type of research was a survey with cross-sectional study design. The sample in this research was junior high school teacher from SMP in Kulon Progo Regency and SMP from Sleman Regency. The analysis data using independent sample test t-test. Results: There was no difference in the level of knowledge (0,867), self-efficacy (0,470), smoking status (0,172), and school policy (0,098)SMP in Kulon Progo and Sleman Regency. There was a difference in accessibility level of information about smoking ban (0,001)and teacher participation to implement non-smoking areas (0,047)in SMP Kulon Progo Regency and Sleman Regency. The selfefficacy (0,014), school policy (0,015), and accessibility of information (0,001)have influence on teacher participation. Conclusion: There was difference in teacher participation to implement nonsmoking areas between Kulon Progo and Sleman Regency. The most dominant factor influencing the participation of junior high school teachers in Kulon Progo Regency and in Sleman Regency towards the application of KTR was accessibility of information about smoking ban.
Kata Kunci : perilaku merokok, sekolah, kawasan tanpa rokok, smoking behavior, schools, non-smoking areas