DETERMINAN STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP ORANG DENGAN HIV AIDS DIANTARA TENAGA KESEHATAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL
GABY GABRIELA LANGI, dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D.; Drs. Ignatius Praptoraharjo, MS, Ph.D.
2017 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV AIDS (ODHA) merupakan salah satu hambatan terbesar dalam penanggulangan HIV AIDS diseluruh dunia termasuk di Indonesia yang dapat menimbulkan masalah yang lebih serius apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan. Laporan kasus dan hasil studi pendahuluan menunjukkan adanya stigma dan diskriminasi oleh tenaga kesehatan terhadap ODHA di Kab. Gunungkidul yang berdampak buruk terhadap kepatuhan pengobatan antiretroviral (ARV), akses terhadap pelayanan kesehatan dan kualitas hidup ODHA. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktorfaktor yang mempengaruhi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA diantara tenaga kesehatan di Kab. Gunungkidul. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional yang dilengkapi dengan metode kualitatif explanatory design (mixed method). Populasi penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan di RSUD Wonosari dan 13 Puskesmas. Sampel sebesar 234 tenaga kesehatan yang ditentukan dengan startified random sampling, termasuk 10 informan kunci yang ditentukan secara purposive. Pengumpulan data menggunakan kuesioner self-administered dan panduan wawancara mendalam. Analisis hubungan antar variabel menggunakan ordinal logistic regression. Hasil: Terdapat 91,88% dari 119 tenaga kesehatan yang pernah melayani ODHA pernah melakukan minimal satu bentuk tindakan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di fasilitas kesehatan dan 8,19% dari 234 tenaga kesehatan memiliki nilai observed stigma. Analisis multivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang HIV AIDS (aOR= 0,71; 95% CI=0,58-0,87), ketakutan terinfeksi HIV (aOR=1,26; 95% CI=1,15-1,39), pengalaman kontak dengan ODHA (aOR=0,55; 95% CI=0,31-0,97), dan jenis tenaga kesehatan (aOR paramedis=3,27; 95% CI=1,25-8,53) dengan stigma dan diskriminasi individu terhadap ODHA. Ketakutan terinfeksi HIV memiliki nilai z terbesar (z=4,80). Pengalaman kontak dengan ODHA (aOR=3,62; 95% CI=1,15-11,41) juga berhubungan dengan observed stigma. Kesimpulan: Pengetahuan tentang HIV AIDS, ketakutan terinfeksi HIV, pengalaman kontak dengan ODHA, dan jenis tenaga kesehatan merupakan determinan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA diantara tenaga kesehatan di Kab. Gunungkidul dan ketakutan terinfeksi HIV sebagai faktor yang paling berpengaruh. Setiap fasilitias kesehatan harus menjamin ketersediaan fasilitas standard precaution, melakukan sosialisasi dan pengawasan alur standard precaution dan disarankan melaksanakan pelatihan terkait HIV AIDS. Kekuatan hukum dalam bentuk peraturan daerah atau peraturan bupati juga dibutuhkan sebagai acuan program penanggulangan HIV AIDS di Kab. Gunungkidul.
Background: Stigma and discrimination against people living with HIV AIDS (PLWHA) is one of the greatest challenges in HIV AIDS control and prevention globally including in Indonesia and causes more serious problems if it is performed by health workers. Case reports and preliminary study indicated stigma and discrimination by health workers against PLWHA in Gunungkidul District that adversely affected the adherence of antiretroviral treatment (ART), access to health services and quality of life of PLWHA. This study objective was to identify factors associated with stigma and discrimination against PLWHA among health workers in Gunungkidul. Methods: This was observational study with cross sectional design followed by qualitative explanatory design (mixed methods). Population was all health workers in a public hospital and 13 public health centers. Samples were 234 health workers determined by startified random sampling, including ten keyinformant obtained by purposive sampling . Study instruments were selfadministered questionnaires and in-depth interview guideline. Analysis of relationships between variables used ordinal logistic regression. Results: There were 91.88% of 191 health workers who had been serving PLWHA had done at least one form of stigma and discrimination against PLWHA and 8.19% of 234 health workers had observed stigma in health facilities. Multivariate analysis showed a significant relationship between knowledge of HIV AIDS (aOR=0.71; 95% CI=0.58-0.87), HIV-infected fears (aOR=1.26; 95% CI =1.15-1.39), contact experience with PLWHA (aOR=0.55; 95% CI=0.310.97), and type of health workers (aOR for paramedics=3.27; 95% CI=1.25-8.53) with individual stigma and discrimination againts PLWHA. HIV-infected fears had the highest z value (z=4.80). Contact experience with PLWHA was also associated with observed stigma (aOR=3.62; 95% CI=1.15-11.41). Conclusions: Knowledge of HIV AIDS, HIV-infected fear, contact experience with PLWHA, and type of health worker were determinants of stigma and discrimination against PLWHA among health workers in Gunungkidul. Each health facility should ensure the availability of standard precaution facilities, socialize and supervise the standard precaution path and be advised to carry out HIV AIDS-related training. The law in the form of regional regulation or regent regulation is needed to strenghten HIV AIDS control and prevention program in Gunungkidul.
Kata Kunci : Stigma dan Diskriminasi, ODHA, Tenaga Kesehatan, Ordinal Logistic Regression, Stigma and Discrimination, PLWHA, Health Workers, Ordinal Logistic Regression