DINAMIKA HARGA LAHAN AKIBAT PERKEMBANGAN PARIWISATA DI KAWASAN PARIWISATA DESA KUTA, KECAMATAN PUJUT, KABUPATEN LOMBOK TENGAH
DYAH CHANDRA LESTARI, Dr. Andri Kurniawan,S.Si.,M.Si.
2017 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHPembangunan dibidang pariwisata merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pendapatan negara. RTRW Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011-2031 menetapkan kawasan Kuta sebagai sektor unggulan pariwisata dan industri. Perkembangan pariwisata Desa Kuta berdampak pada semakin meningkatnya permintaan lahan. Permintaan lahan yang tidak terbatas dengan ketersediaan lahan yang terbatas memicu melonjaknya harga lahan. Harga lahan pasaran yang sangat dinamis berkembang lebih tinggi daripada NJOP yang bersifat statis. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Identifikasi kondisi harga lahan di kawasan pariwisata Desa Kuta tahun 2010-2016, 2) Mengkaji perbedaan harga antara harga lahan pasaran dengan NJOP, 3) Identifikasi alasan masyarakat melakukan penjulan lahan. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan penentuan sempel menggunakan metode Purposive Sampling. Pengolahan data dilakukan menggunakan Microsoft Excel dan ArcMap 10.3 kemudian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Data primer yang digunakan adalah data harga lahan pasaran, dan alasan masyarakat melakukan penjuala lahan yang diperoleh dari hasil wawancara menggunakan kuisioner dengan responden. Data sekunder yang digunakan adalah data Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) Desa Kuta, yang diperoleh dari dokumen resmi pemerintah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Harga jual lahan pasaran di Desa Kuta meningkat dari tahun 2010-2016 dengan peningkatan yang lebih tinggi terjadi dari tahun 2012 yang menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata berpengaruh terhadap meningkatnya harga lahan. Harga jual lahan tertinggi adalah lahan di Dusun Kuta I dan Dusun Ketapang, karena dusun tersebut terletak lebih dekat dengan obyek wisata dan tidak termasuk dalam KEK. 2) Nilai NJOP bisa bernilai 100 kali lipat harga pasaran. Nilai NJOP tertinggi adalah Rp 48.000/m2 dan nilai NJOP terendah adalah Rp 3.500/m2. Sedangkan, harga pasaran tertinggi adalah Rp 160.000.000,00 dan harga terendah adalah Rp 5.000.000,00. 3) Alasan penjualan lahan umumya disebabkan karena permasalahan ekonomi yakni untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tourism development is one of the way to increase regional income and national income. Central Lombok’s Urban planning (RTRW) in 2011-2031 assigned Kuta area as a leading sector in tourism and industry. The development of tourism in Kuta area has an impact on the increasing demand of land. The high number of land demand with limited land availability triggered rising land prices. Land prices is very dynamic and develops higher than Tax Object Sale Value (NJOP) which is statically. This study aims 1) To identify the condition of land prices in Kuta area in 2010-2016, 2) Assessing the land price differences between the market price and Tax Object Sale Value (NJOP), 3) To identify the reason why do people sells their land. The method used in this study is survey method with samples are determined by Purposive Sampling. Data processing used by Microsoft Excel and ArcMap 10.3 then analyzed with quantitative and qualitative analysis. Primery data used are market price, and the reason people sells their land, obtained from interview with respondents. Secondary data used is Tax Object Sale Value (NJOP) Kuta Area, obtained from official government document. The results of this study indicate that 1) The market price of land in Kuta area increased from 2010-2016. Higher increased occurred from 2012 shows that tourism development is influence land prices. Highest price of land is Kuta I and Ketapang because located near the beach and not included ini KEK, 2) The value of NJOP can be worth 100 times than market price. The highest value of NJOP is Rp 4.800.000,00/ are (Rp 48.000,00/m2) and lowest value is Rp 350.000/are (3.500/m2). Meanwhile, the highest market price is Rp 160.000.000,00/are (Rp 1.600.000,00/m2) and lowest value is Rp 5.000.000,00/are (Rp 50.000,00/m2), 3) Economic problems is the main reason why do people sells their land.
Kata Kunci : Pariwisata, Harga lahan pasaran, Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP).