PENGARUH PELATIHAN PEMBERSIHAN BANGSAL KEPADA PETUGAS CLEANING SERVICES DALAM UPAYA MENURUNKAN ANGKA KUMAN UDARA DI RSIA ADINA WONOSOBO
WASTHI SAILY, Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc, PhD.
2017 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Infeksi nosokomial merupakan permasalahan yang sering terjadi di rumah sakit yang mengindikasikan rendahnya kualitas mutu pelayanan kesehatan. Salah satu penyebabnya yaitu jumlah angka kuman udara rawat inap diatas baku mutu yang ditetapkan Pemerintah. Hal ini erat kaitannya dengan Petugas Cleaning Service yang melakukan pembersihan lingkungan / bangsal rumah sakit sebagai uapaya pengendalian infeksi di rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh pelatihan pembersihan bangsal kepada petugas CS dalam upaya menurunkan angka kuman udara yang tinggi di RSIA Adina. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian pre dan pasca intervensi. Pengumpulan dan analisis data dilakukan dengan pendekatan kuasi eksperimental. Sebanyak 12 petugas cleaning service diikutsertakan dalam penelitan ini. Data kuantitatif diambil dengan menyebarkan kuesioner data diri dan mengamati kepatuhan dalam pelaksanaan pembersihan bangsal (tempat sampah, kaca, area permukaan, dinding, kamar mandi, dan plafon/eternit) secara langsung di ruangan serta penilaian jumlah angka kuman udara dengan menggunkan alat microbiology air sampler. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan secara total atau seluruh tindakan pembersihan bangsal secara umum subjek tidak patuh dalam melakukan pekerjaannya. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia, jenis kelamin, dan lama kerja terhadap tingkat kepatuhan. Hanya terdapat satu hubungan yang signifikan secara statistik, yaitu antara jenis kelamin terhadap kepatuhan pembersihan kamar mandi (p=0,018), dengan jenis kelamin perempuan memiliki proporsi patuh yang lebih banyak dibanding jenis kelamin laki-laki. Nilai angka kuman udara rawat inap terdapat kecenderungan peningkatan rerata angka kuman dari ketiga ruangan, dengan peningkatan yang mencolok pada kamar Tulip 2. Hal ini erat kaitannya terhadap jumlah pasien yang dirawat saat itu. Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah pasien dengan angka kuman udara rawat inap r (9)=0,738, p=0,023. Kesimpulan: Rumah Sakit perlu mengevaluasi kembali efektivitas pelatihan pembersihan bangsal terhadap petugas CS. Rumah Sakit dapat melakukan upaya peningkatan kepatuhan petugas dalam menurunkan angka kuman udara secara komprehensif dan berkelanjutan sebagai upaya pengendalian infeksi di rumah sakit.
Background: Nosocomial infection is a common problem in hospital which indicates indaequate quality of health service. One of the cause is airborne bacterial number which is above the government-approved level. This is closely related to the activity of cleaning service employees which is worked to clean hospital ward/environment in order to manage infection in hospital. Objective: This research aimed to assess the effect of ward cleaning training to cleaning service employees towards the decrease of airborne bacterial number in Adina Women and Children Hospital. Methods: The design of this research was pre- and post-intervention design. Data collection and analysis was conducted using quasi experimental approach. Twelve cleaning service employees were included in this study. Quantitative data were gathered by distributing biodata questionnaire and directly observing employees compliance in several aspects of ward cleaning (trash bin, glass, surface area, wall, bathroom, and ceiling), and also measurement of airborne bacterial number using microbiology air sampler. Results: The data showed that overall compliance and compliances of each aspects of ward cleaning were low. There were no statistically significant relationship between age, gender, and work duration towards compliance level. There was only one statistically significant relationship which was between gender and compliance in bathroom cleaning (p=0,018) with female employees had higher compliance proportion compared to male employees. There was an increasing trend of airborne bacterial number in all three rooms, with the highest increase in Tulip 2 room. This was closely related to the number of patients in that room. There was a statistically significant relationship between number of patients and wards airborne bacterial index with r (9)=0,738, p=0,023. Conclusion: The hopital need to evaluate the effectivity of ward cleaning training to cleaning service employees. The hospital should conducts several methods to increase employees compliance in decreasing airborne bacterial number using comprehensive and continuous measures as one aspects of infection control in hospital.
Kata Kunci : Pelatihan, kepatuhan, angka kuman udara, microbiology air sampler, Training, compliance, airborne bacterial number, microbiology air sampler.