Laporkan Masalah

ANALISIS STUDI KELAYAKAN BISNIS PEMBANGUNAN PELABUHAN: STUDI KASUS PT XYZ

ADHI NUR PRADIPTA, Kusdhianto Setiawan,Sivilekonom,Ph.D

2017 | Tesis | S2 Manajemen

Membuat keputusan mengenai bagaimana dan di mana menempatkan investasi adalah beberapa keputusan strategis yang harus dibuat perusahaan dalam mencapai tujuan. Dalam memutuskan investasi, perusahaan menghadapi pilihan yang beragam dan juga ketidakpastian yang tinggi. Perusahaan juga harus menghadapi risiko investasi tersebut tidak menghasilkan profit. Studi kelayakan diperlukan untuk memeriksa beragam sebab yang dapat mempengaruhi kesuksesan dari sebuah investasi dan meningkatkan akurasi pengambilan keputusan. PT XYZ merupakan produsen semen besar di kawasan Indonesia timur. PT XYZ memiliki pabrik di Sulawesi Selatan. Dalam operasional hariannya, PT XYZ menggunakan Pelabuhan Makassar. PT XYZ memiliki rencana untuk membangun pelabuhan yang akan melayani kebutuhan logistik perusahaan mereka sendiri.Rencana Anggaran Bangunan (RAB) dari pembangunan proyek pelabuhan tersebut diperkirakan sebesar Rp 165 milyar. Terdapat dua alternatif skema pembangunan pelabuhan tersebut, yaitu: 1. Mendirikan anak perusahaan baru yaitu PT ABC yang akan membangun dan mengelola pelabuhan baru milik PT XYZ di areal milik group usaha PT XYZ dan terletak lebih dekat pabrik PT XYZ. 2. Bekerjasama dengan PT Pelabuhan Indonesia 4 (Pelindo 4) melalui skema Build, Operate, and Transfer (BOT). PT XYZ harus menghitung kelayakan proyek tersebut tidak hanya studi kelayakan pelabuhannya saja namun juga menghitung efisiensi yang dihasilkan dari penurunan biaya logistik dan kepelabuhanan. Dengan demikian PT XYZ akan memiliki pelabuhan yang bisa beroperasi dalam jangka panjang dan juga efisiensi biaya dari PT XYZ akan tercapai. Setelah dilakukan pengujian melalui 5 (lima) indikator kelayakan bisnis yaitu NPV,IRR, Payback Period, MIRR, dan Profitability Index, Peneliti menarik kesimpulan bahwa skema pembangunan pelabuhan yang paling layak secara keuangan adalah skema BOT. Hal ini ditunjukkan melalui indikator sebagai berikut: NPV: Rp 260,699,423,000, IRR: 39%, MIRR: 29%, Payback Period: 4.5, Profitability Index : 2.81. Skema BOT memiliki indikator kelayakan usaha yang lebih tinggi daripada Skema pembangunan pelabuhan oleh PT ABC. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembangunan pelabuhan oleh PT ABC akan menurunkan biaya bongkar muat secara signifikan yaitu dengan persentase biaya bongkar muat terhadap pendapatan PT XYZ rata rata 1.4% (dari sebelumnya 4%) dan biaya bongkar muat/tonase produksi rata rata Rp 14 ribu/ton (dari sebelumnya Rp 40 ribu/ton). Sehingga rekomendasi peneliti bagi PT XYZ adalah melakukan pembangunan pelabuhan melalui PT ABC, karena dapat menurunkan biaya logistik walaupun memiliki indikator kelayakan usaha yang lebih rendah daripada skema BOT.

Making decision on investing is one of strategic decision should be made by a company in order to achieve its goals. In investing company facing different option and high uncertainties. Company also facing loss risk. Therefore the investment decision should analized, valued, and calculated thoroughly with comprehensive risk analysis. Feasibility studies needed to examine different factor that affected investment and increase the accuracy of decision making. PT XYZ is one of the biggest cement producer in Eastern Indonesia. PT XYZ operates cement plant in Makassar. In its daily operation, PT XYZ uses Makassar Port. Currently Makassar Port suffer an overload traffic that increases its dwelling time. Therefore PT XYZ plans to build and operate its own port. The project cost of the port is around IDR 165 billion. There are two alternatives of the construction scheme: 1. Develop special purposed vehicle named PT ABC that will build and operate the new port on behalf of PT XYZ in the areal owned by PT XYZ. 2. Develop a cooperation agreement with PT Pelabuhan Indonesia 4 (Pelindo 4) through Build, Operate, and Transfer scheme (BOT). PT XYZ must calculate the feasibility of the project not also from the port perspective but also the efficiency gained from the decreasing of logistic cost PT XYZ. In the long run PT XYZ will have a sustainable port and also increase the efficiency of PT XYZ. Through five feasibility testing (NPV,IRR, Payback Period, MIRR, and Profitability Index) researcher concluded that the most financially feasible scheme is build a port through BOT scheme. The indicator are as follows: a. NPV : Rp 260,699,423,000 b. IRR : 39% c. MIRR : 29% d. Payback Period : 4.5 e. Profitability Index : 2.81 BOT scheme has higher feasibility indicator than build by PT ABC scheme. Research also showed that building port through PT ABC will significantly decreased the percentage of PT XYZ logistic cost (from average 4% to average 1.4%), and also reducing logistic cost/ton from IDR 40.000/ton to IDR 14.000/ton. Therefore final recommendation from researcher to PT XYZ is to build the port using PT ABC which reducing more cost compared to BOT scheme although having lower feasibility indicator.

Kata Kunci : pelabuhan, investasi, studi kelayakan usaha, NPV, IRR,MIRR,Profitability Index,Payback Period