IMPLEMENTASI PRINSIP PARIWISATA BERBASIS KOMUNITAS DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA NGLINGGO YOGYAKARTA
ROSDIANA PAKPAHAN, Prof. Dr.-Janianton Damanik, M.Si;Prof. Dr. Ir. Chafid Fandeli, M.S
2017 | Tesis | S2 Kajian PariwisataPariwisata berbasis komunitas merupakan kajian yang dibahas pada penelitian ini, yaitu pariwisata yang dilakukan oleh, dari dan untuk masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Desa Wisata Nglinggo yang terletak di desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengungkap relevansi prinsip-prinsip pariwisata berbasis komunitas dalam praktik pengelolaan desa wisata dan menemukan sejumlah faktor pendukung dan penghambat penerapan prinsi-prinsip pariwisata berbasis komunitas dalam pengelolaan desa wisata dan mengapa hal itu terjadi. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif, data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dengan kuesioner, wawancara mendalam dan observasi. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari data dinas melalui web Dinas Pariwisata Kulon Progo Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip pariwisata berbasis komunitas yang diterapkan pada desa wisata Nglinggo sebesar 84,54% secara keseluruhan. Untuk prinsip lingkungan diterapkan sebesar 84,9%, prinsip ekonomi diterapkan sebesar 83,1%, prinsip partisipasi masyarakat sebesar 85,4%, prinsip SDM/Pendidikan diterapkan sebesar 83,6% dan untuk prinsip budaya telah diterapkan sebesar 85,7%. Penerapan prinsip pariwisata berbasis komunitas di Desa Wisata Nglinggo sudah pada level tinggi. Masyarakat Nglinggo sudah semakin sadar akan pentingnya menjaga desa mereka sehingga semakin banyak masyarakat luas yang akan mengenal Desa Wisata Nglinggo. Faktor yang mendukung penerapan prinsip pariwisata berbasis komunitas yaitu, sumber daya alam, kohesifitas masyarakat, kontribusi terhadap masyarakat, keterlibatan masyarakat lokal, adanya kelembagaan, komitmen pengelola, serta dukungan pemerintah. Sedangkan faktor yang menjadi penghambat penerapan prinsip pariwisata berbasis komunitas antara lain pendidikan dan kesiapan masyarakat.
Community-based tourism (CBT), a type of tourism in which activities are run by local people for the sake of their welfare, is the center of this research. This study is carried out in Nglinggo rural tourism destination located in Pagerharjo village, Samigaluh sub-district, Kulon Progo regency in Yogyakarta. This research is aimed at revealing the application CBT principles implemented in the management of the rural tourism attraction as well as finding supporting factors and obstacles on the application of the CBT principles. This study also traces why such factors and obstacles occur. This research applies both qualitative and quantitative techniques in obtaining primary and secondary data. The primary data is collected by questionnaires, in-depth interview and observation, while the secondary data is obtained mainly from local website of Office of Tourism of Kulon Progo Regency. This research indicates that overall the CBT principles applied in the management of the observed attraction reaches up to 84.54%. The principles related with the environment are applied for 84.9%; 83.1% for the application economic principles; 85.4% for people participation; 83.6% for human resource/education principles; and 85.7% for the application of cultural principles. Therefore, this study suggests that the CBT principles have been applied on the high level in Nglinggo rural tourism destination. Local people are aware on the importance of involvement in managing their village as an attraction. Meanwhile, supporting factors of the application of CBT principles are natural resources, local people cohesion, contribution to local people, local community involvement, existence of supporting institution, management commitment, and local support. On the other hand, obstacle found in the application of the CBT principles are education and people readiness.
Kata Kunci : Implementasi, Prinsip Pariwisata Berbasis Masyarakat, Faktor pendukung, faktor penghambat, implementation, community-based tourism principles, supporting factors, obstacles.