Women, Development and Enviromental Crisis Beyond Ecological Conflict and Religious Spiritual Resistance in Kendeng, Rembang
ALI JA'FAR, Dr. Gregory Vanderbilt
2017 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaPembangunan pabrik semen di Rembang yang mulai beroperasi pada 2015 adalah bagian dari pembangunan ekonomi daerah untuk meningkatkan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat melalui industry ekstraksi, tetapi pembangunan dengan cara seperti ini telah membawa pada kehancuran ekonomi local dan krisis lingkungan. Terlebih, pegunungan Kendeng sebagai sumber air yang berguna untuk pertanian juga dipersepsikan oleh masyarakat lokal sebagai element penting dari alam yang memiliki nilai-nilai spiritual. Pembangunan yag mengabaikan nilai spiritual dalam analisa lingkungan telah membawa pada konflik, terutama pada masyarakat di ring satu sekitar pabrik. Dalam analysis, saya membagi lima posisi: tolak, pro, nationalist, opportunist dan silent. Tolak adalah penolak pabrik semen dan pro adalah pendukungnya. nasionalist mendukung pemerintah, opportunist mendukung akses pekerjaan dan silent adalah menghindari konflik. Focus pada penelitian ini adalah perlawanan keagamaan dan spiritualitas yang menempatkan wanita sebagai aktor utama dalam menghadapi isu lingkungan dan pembangunan. Terkadang, wanita dari group tolak mendapati anak dan saudara meraka menjadi pro dan opportunist. Penelitian ini berlokasi di desa Timbrangan dan Tegal Dowo, yang berlokasi di bagian selatan kabupaten Rembang dan berjarak 5 kilometer dari pabrik semen. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan ethnografis. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dengan keikutsertaan peneliti dalam kehidupan sehari-hari, mengikuti demonstrasi, meneliti banner dan pamphlet juga interview dengan tokoh penting. Penelitian ini dilakukan dari10 Desember 2016 sampai 15 February 201 (dua bulan). Penelitian ini mengungkapkan bahwa statust pabrik sebagai BUMN telah membawa pada isu nasionalism dimana etika kegaamaan untuk kebaikan bersama ditujukan untuk mendukung pembangunan. Di sisi lain, kerja sama antara masyarakat Islam dan Samin dalam menolak pabrik Semen juga menimbulkan isu yang berlapis, kebohongan-kebohongan dan ketidak percayaan. Dalam kekacauan ini, gambaran wanita taat dalam sosok Kartini kemudian dikontestasikan sebagai sosok yang medukung pembangunan. Di sisi lain, wanita yang berjuang untuk memperjuangkan tanah yang juga dikenal sebagai Kartini Kendeng direspon dengan negative, sebagai aliansi masyarakat Samin yang kurang religious dan kurang nasionalist. Penelitian ini juga mengungkapkan hal penting bahwa masyarakat lokal memiliki ide sendiri tentang pembangunan melalui ekonomi berbasis alam, ide tentang kebaikan bersama melalui berbagi kebaikan tanah dan menjaga berkah sebagai nilai spiritual. Element-element ini ditelantarkan sebagai titik buta yang disebut Marshal sebagai pembangunan sekuler. Lebih lanjut, perlawanan wanita pada isu agama adalah melalui narasi wali dalam menjaga kebaikan tanah, menyatukan Santri dan petani (Samin) untuk acara keagamaan. Perlawanan secara spiritual juga meletakkan wanita di garda depan perlawanan untuk mencegah politik perpecahan serta membangkitkan semangat persaudaraan dalam menjaga Ibu Bumi. Dari penemuan ini, penelitian ini menyarankan bahwa pembangunan harus meletakkan apa yang disebut Vandana Shiva sebagai ekonomi alami sebagi point utama pembangunan atau mendiskusikan hubungan ecologis dalam prosess pembangunan.
The establishment of a cement factory in Rembang beginning for operation in 2015 is part of a program for rural economic development for increasing revenues and community prosperity through industrial extraction, but it is also clear that this kind of development leads to destruction of local traditional economy and to environmental crisis. Indeed, Kendeng mountain is a source of water that is beneficial for farming and is also perceived by the local community as a pivotal element of nature that has spiritual values. By neglecting spiritual values in the environmental assessment, this development has led to conflict, especially within the communities in the first ring of cement factory. In my analysis, I identify five positions local people have taken in relation to development: Tolak, pro, nationalist, opportunist and silent. Tolak means refusing factory, pro means factory supporter, nationalist means government supporter, opportunist is supporter for job and silent means avoiding conflict. The focus of this research is the religious-spiritual resistance primarily by women as main actors responding to the issues of environmental crisis brought on by development. In particular, women are choosing the tolak position even as they see their sons and brothers becoming pro or opportunist. This research is located in the community of Timbarangan and Tegaldowo, two farming villages in the southern part of Rembang regency, located within five kilometers of the cement factory. It is qualitative research that employs an ethnographic approach. Data was gathered through participatory observation with the involvement of the researcher in community daily life, following demonstrations, observing banners and pamphlets and interviewing important actors. This research was conducted from 10 December 2016 to 15 February 2017 (two months). This thesis reveals that factory status as state enterprise made its arguments using nationalism in which a religious ethic of a common good is supporting national development. On one hand, the cooperation between the Muslim farmers and nearby Samin community for refusing cement factory also evokes multi layered issues, lies and mistrust. In this upheaval, the image of good faithful women in the figure of Kartini then contested as the supporter of the development. On the other hand, women who fight for preserving land well-known as Kartini Kendeng, responded as Samin alliance that less religious- nationalist. This research also reveals an important aspect that local communities have their own ideas about development through local natural economy, ideas of the common good through sharing the benefit of the land and maintaining berkah in the spiritual value of the land. These elements are neglected as blind spot in what Marshal has called secular development. Further, women resistances is defined in religious terms through stories of saints maintaining the goodness of land, unifying Santri and farmer for religious ceremonies. Spiritual resistance has also located women in the front lines of the struggle to avoid a politics of dividing by calling on a spirit of brotherhood in protecting the Earth Mother. From these findings, this research suggested to put back what Vandana Shiva calls the local natural economy as point of development or to discuss ecological relation in the process of development.
Kata Kunci : KartiniKendeng, Secular Development, Spiritual Resistance, Common good, berkah