Laporkan Masalah

ANALISIS PENDAPATAN PEMBUDIDAYA IKAN DI KELOMPOK MINO NGREMBOKO DESA SINDUMARTANI KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN SLEMAN

RIFQI NUR RAHMAWAN, Suadi, S.Pi., M.Agr.Sc.,Ph.D.

2017 | Skripsi | S1 MANAJEMEN SUMBER DAYA PERIKANAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya-biaya yang dikeluarkan pembudidaya ikan untuk usaha budidaya dan mengetahui pendapatan pembudidaya ikan dari usaha budidaya dan pengolahan ikan di Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mino Ngremboko Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan metode sensus yaitu 46 sampel terdiri dari pembudidaya dan pengolah ikan yang aktif melakukan usaha perikanan. Untuk menganalisis pendapatan usaha budidaya ikan berdasarkan strata luas kolam digunakan analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya total dan pendapatan per bulan diketahui untuk luas kolam strata sempit (<2000m2) sebesar Rp 1.199.900 dengan pendapatan Rp 768.550; luas kolam strata sedang (2.0015.000m2) sebesar Rp 2.009.600 dengan pendapatan Rp 4.322.400; luas kolam strata luas (5.001-10.000m2) sebesar Rp 3.436.150 dengan pendapatan Rp 6.841.450; dan luas kolam strata sangat luas (>10.000m2) sebesar Rp 6.711.700 dengan pendapatan Rp 16.189.350. Istri pembudidaya ikan yang melakukan pengolahan ikan secara berkelompok diketahui memiliki pendapatan rata-rata sebesar Rp 384.000 per bulan. Rata-rata pendapatan pembudidaya ikan yang istrinya mengolah hasil perikanan diketahui sebesar Rp2.854.600 per bulan. Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 235/KEP/2016 tahun 2017 menjelaskan bahwa upah minimum Kabupaten Sleman Rp 1.448.385, membuktikan pendapatan pembudidaya ikan (suami) yang ditambah dengan pendapatan pengolah (istri) di Kelompok Pembudidaya Ikan Mino Ngremboko lebih tinggi dari upah minimum Kabupaten Sleman. Usaha perikanan dengan demikian masih layak dikembangkan sebagai usaha ekonomi produktif di pedesaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

The purpose of this study is to determine the fish cultivation costs and to know the income of fish farmers from fish cultivation and fish processing in Mino Ngremboko Fish Farming Group,Ngemplak, Sleman. The sample was selected by using the census method, in which 46 samples consisting of fish farmers (husband) and fish processing worker (wife) were selected. Quantitative analysis was used to determine the respondens income based on the strata of fish pond size. The study indicated that the average total cost and income of narrow strata size of fish pond (<2000m2) was Rp 1.199.900 with the income of Rp 768.550; the middle size (2.001-5.000m2) was Rp 2.009.600 with the income of Rp 4.322.400; the wide size (5.001-10.000m2) was Rp 3.436.150 with the income of Rp 6.841.450; and the very wide size (>10.000m2) was Rp 6.711.700 with income of Rp 16.189.350. The wife of fish farmers who did fish processing is known to have income as worker on group-based fish processing unit was Rp 384.000 per month. The average total income from fish farming (husband) and processing (wife) per month was Rp 2.854.600. Decree of the Governor of Daerah Istimewa Yogyakarta Number 235/KEP/2016 year 2017 stated that the minimum wage of Sleman Regency was Rp 1.448.385, proving the income of fish farmers (husband) plus the processing income (wife) in the Mino Ngremboko Fish Farming Group is higher than the minimum wage of Sleman Regency. Therefore, fish farming is feasible to be developed as productive economic activities in rural areas of Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kata Kunci : biaya, budidaya ikan, pendapatan, pengolahan ikan, Sleman