STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DENGAN PENDEKATAN MODAL SOSIAL DI DESA PENYANGGA TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI PROVINSI JAWA TENGAH
PRAKASITA NASTITI, Dr. Ir. Lies Rahayu Wijayanti Faida, M.P.;Dr. Much Taufik Tri Hermawan, S.Hut., M.Si.
2017 | Tesis | S2 Ilmu KehutananSalah satu program Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yaitu pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaannya belum mempertimbangkan aspek modal sosial yang merupakan aspek penting dalam keberhasilan pembangunan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi modal sosial desa penyangga TNGM dan menyusun strategi pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan modal sosial. Penelitian ini dilaksanakan di tiga lokasi yaitu SPKP Merapi Asri, Kab. Magelang, MDK Karya Manunggal Kab. Boyolali, dan SPKP Sidorejo Kab. Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif dan menggunakan rancangan survei. Responden diambil dengan puposive sampling. Analisis data menggunakan AHP dan skala likert untuk mengetahui kondisi modal sosial, dan metode A`WOT untuk penyusunan strategi pemberdayaan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial di SPKP Merapi Asri dan MDK Karya Manunggal masuk kategori tinggi, dengan ciri-ciri: organisasi yang mantap, koneksitas baik, partisipasi dan solidaritas cukup tinggi sampai dengan tinggi, tingginya kepercayaan terhadap sesama manusia, instansi dan sistem yang abstrak, pengetahuan dan pemahaman terhadap aturan tertulis sedang mendekati tinggi. Modal Sosial di SPKP Sidorejo masuk kategori sedang, dengan ciri-ciri: organisasi yang belum mantap, koneksitas dan solidaritas sedang, partisipasi cukup tinggi, tingginya kepercayaan terhadap sesama manusia dan instansi, sedangkan terhadap sistem yang abstrak sedang, pengetahuan dan pemahaman terhadap aturan tertulis sedang. Strategi pemberdayaan masyarakat di SPKP Merapi Asri: menjalin kemitraan sesuai dengan kebutuhan, membangun koneksitas dengan Pemda Magelang untuk legalitas kelompok, dan membangun komitmen bersama kelompok. Di MDK Karya Manunggal: membangun kemitraan untuk pemanfaatan limbah biogas, membangun koneksitas dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan membangun keyakinan untuk tetap menggunakan biogas. Di SPKP Sidorejo: membangun kemitraan sesuai dengan kebutuhan, membangun koneksitas untuk pemasaran jamur dan pengembangan budidaya jamur. Secara garis besar strategi pemberdayaan masyarakat pada modal sosial tinggi: memanfaatkan kepercayaan untuk membangun koneksitas, memanfaatkan partisipasi dan solidaritas dalam pengembangan kelompok dan perlindungan hutan, memanfaatkan organisasi yang sudah mantap dalam penggalangan dana, dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kelompok tentang aturan TNGM. Strategi pada modal sosial sedang yaitu memanfaatkan kepercayaan terhadap manusia dan instansi untuk membangun koneksitas, meningkatkan kepercayaan terhadap sistem yang abstrak, penguatan kelembagaan, mengoptimalkan koneksitas dan partisipasi untuk pengembangan program kerja kelompok, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kelompok tentang aturan TNGM, dan membangun karakter anggota.
One of the planned programs of Gunung Merapi National Park is community empowerment. Its implementation has not considered the social modal aspect which is a prominent aspect in the success of the development. This research was conducted to discover the social modal aspects condition of the Gunung Merapi National Parks supporting village and constructing the community empowerment strategy through social modal approach. This research was conducted in three locations, such as SPKP Merapi Asri, Magelang Regency; Karya Manunggal, Boyolali Regency; and SPKP Sidorejo, Klaten Regency. This research is a descriptive research which uses quantitative method and survey drafting. The respondents were obtained through purposive sampling. The data analyses used were AHP and Likert Scale to find out the social modal condition and AWOT method to arrange the community empowerment strategy. The result of the research shows that social modal in SPKP Merapi Asri and MDK Karya Manunggual is categorized into high level, with the characteristics such as: firm organization, good connectivity, high enough-high participation and solidarity, possessing high rate of trust among humans, abstract institution and system, and almost-high knowledge and understanding to written regulations. Social modal in SPKP Sidorejo was categorized into intermediate level, with the characteristics such as: unsteady organization, medium connectivity and solidarity, high participation, high trust among humans and institutions but moderate trust to abstract system, and moderate knowledge and understanding toward written regulations. The strategy of community empowerment in SPKP Merapi Asri: establishing partnership in accordance to the needs, building connectivity with Magelang local government for community legality, and building common commitments. In MDK Karya Manunggal: establishing partnership for biogas waste utilization, building connectivity with the Ministry of Energy and Mineral Resource, and building confidence to keep using biogas. In SPKP Sidorejo: establishing partnership in accordance to the needs, building connectivity for mushroom marketing and cultivation development. The outline of community empowerment strategy on high social modal: using trust to build connectivity, using participation and solidarity in community development and forest protection, using firm organization in fundraising, as well as improving the communitys knowledge and understanding to the national parks regulation. The strategy of intermediate social modal is through using trust among humans and institution to build connectivity, improving trust towards abstract system, institution strengthening, optimizing connectivity and participation to develop the program plan, improving the knowledge and understanding of the community to the national parks regulation, and character building the members.
Kata Kunci : modal sosial, pemberdayaan masyarakat, AHP, AWOT, TNGM;social modal, community empowerment, AHP, AWOT, Gunung Merapi National Park