Keluar dari Krisis: Strategi Masyarakat Tionghoa di Medan Menghadapi Krisis Tahun 1965 dan 1998 (Studi Perbandingan)
DIAN PURBA, Dr. Sri Margana, M.Phil.
2017 | Tesis | S2 Ilmu SejarahOrang-orang Tionghoa selama ini berada dalam keadaan yang tidak selalu mudah. Mereka harus menggunakan strategi adaptasi yang berbeda dalam setiap era kekuasaan. Oleh karena itu penelitian ini berupaya membandingkan strategi adaptasi yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa. Ruang lingkup spasial penelitian ini adalah Medan, sementara ruang lingkup temporal adalah tahun 1965 dan 1998. Tahun 1965 dipilih karena pada tahun itu terjadi pergantian rezim Sukarno ke rezim Suharto yang ditandai dengan pembunuhan massal, di mana orang-orang Tionghoa banyak menjadi korban. Sementara tahun 1998 dipilih karena di tahun ini Suharto lengser dari kursi presiden. Kelengseran itu ditandai dengan kekerasan terhadap orang Tionghoa. Sebagai studi sejarah penelitian ini menggunakan sumber-sumber primer dan sekunder. Selain itu informasi juga diperoleh melalui wawancara dengan mereka yang terlibat langsung ataua terkait dengan peristiwa. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) pada peristiwa 1965 orang-orang Tionghoa bukanlah menjadi sasaran utama pembunuhan massal; (2) jaringan mereka kekuasaan di satu sisi dan menjadikan mereka sebagai sapi perah oleh tentara menghindarkan mereka dari praktek kekerasan; (3) pada peristiwa Mei 1998 di Medan mereka jadi sasaran amuk massa, terlebih harta benda mereka; (4) mereka menciptakan atau memanfaatkan situasi diskriminatif menjadi alat bagi mereka membentengi diri dari situasi krisis.
The Chinese people have been in a state that is not always easy. They must use different adaptation strategies in every era of power. Therefore, this study attempts to compare adaptation strategies undertaken by Chinese people. The spatial scope of this study is Medan, while the temporal scope is 1965 and 1998. The year 1965 was chosen because in that year there was a change of Sukarno regime to the Suharto regime marked by mass killings, where many Chinese people became victims. While in 1998 was chosen because in this year Suharto stepped down from the presidency. The misappropriation is characterized by violence against the Chinese. As a historical study this study uses primary and secondary sources. In addition, information is also obtained through interviews with those directly involved or related to events. The results of this study conclude that (1) in the 1965 events the Chinese were not the main targets of mass killings; (2) their networks of power on the one hand and making them "dairy cows" by the army prevent them from the practice of violence; (3) in the May 1998 incident in Medan they became the target of m ass amok, especially their property; (4) they create or exploit discriminatory situations into a tool for them to fortify themselves from crisis situations.
Kata Kunci : Strategi Adaptasi; Orde Baru, Tionghoa Medan/Adaptation Strategy, New Order, Medan Chinese.