Laporkan Masalah

INTERFAITH-BASED STUDENT COMMUNITY: A STRATEGIC RELIGIOUS PEACEMAKING BETWEEN MUSLIM AND CHRISTIAN IN INDONESIA A Case Study of Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia

ANDREAS JONATHAN, Dr. Paulus Widjaja; Dr. Fatimah Husein

2017 | Disertasi | S3 ILMU AGAMA DAN LINTAS BUDAYA

Konflik agama, terutama dalam hubungan Muslim-Kristen, memiliki sejarah panjang baik secara global dan lokal. Meskipun itu tidak disebabkan oleh satu alasan, agama sering menjadi faktor penting penyebab. Untuk mengatasi masalah konflik agama dan intoleransi, diperlukan beberapa upaya dalam setiap segmen masyarakat: pemimpin agama, pemerintah / politik pemimpin, sarjana / akademisi, dan juga akar rumput. Di antara akar-rumput, sejarah menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa memainkan peran penting dalam beberapa perubahan signifikan bangsa. Namun, sedikit yang diketahui tentang studi akademik peran mahasiswa dan gerakan mahasiswa dalam perdamaian agama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia (YIPC). Data yang dikumpulkan dari dokumen, pengamatan dan wawancara 30 fasilitator YIPC. Disertasi ini menjawab bagaimana dan mengapa YIPC sebagai komunitas mahasiswa berbasis agama telah secara strategis dan efektif membangun hubungan antara pemuda Kristen dan Muslim. Dua kerangka teoritis utama yang digunakan untuk menganalisa: tujuh momen dialog antaragama oleh Johanes Banawiratma dan hubungan antar agama oleh Miroslav Volf serta didukung juga oleh teori-teori lain yang relevan. Dari analisa data, ditemukan tiga faktor utama yang mempengaruhi responden menjadi eksklusivis secara sosial: keluarga/ orang tua, lingkungan yang homogen, serta ideologi dan identitas kelompok. Tiga komponen dalam membangun hubungan damai Kristen-Muslim yang digunakan oleh YIPC di Kamp Perdamaian melawan tiga faktor tersebut dan mengubah peserta menjadi pluralis sosial adalah nilai-nilai perdamaian, dialog antaragama dan rekonsiliasi. Hal ini memungkinkan semua kegiatan dan upaya untuk terlaksana diatur dalam sebuah komunitas seperti YIPC. Kesimpulannya, studi ini menunjukkan bahwa pemuda atau mahasiswa dapat membangun perdamaian antar agama dengan efektif serta dapat terlibat untuk menjalankan berbagai jenis dialog antaragama.

Religious conflicts, especially in Muslims-Christians relations, have a long history both globally and locally. Though it is not caused by single reason, religion often becomes a significant factor of cause. To solve the problem of religious conflicts and intoleration, it is needed some efforts in every segment of society: religious leaders, government/ political leaders, scholars/ academician, and also grass roots. Among the grass roots, the history shows that students/ student movements had played significant role in some significant change of the nation. However, little is known about the academic study on the role of students and student movements in religious peacemaking. This research used a qualitative method with a case study of Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia. The data were collected from the documents, participant observations and interview of 30 YIPC facilitators. This dissertation answers how and why YIPC as an interfaith-based student community has been strategic and effective for peacebuilding among Christian and Muslim youth. Two main theoretical frameworks were used to analyze: seven-moment of interfaith dialogue by Johanes Banawiratma and relation among religions by Miroslav Volf and also supported by other relevant theories. From the data analysis it is found out three main factors impacted the respondents to be social exclusivists: the family/ parents, homogenous environment, and group ideology and identity. Three components in building peaceful Christian-Muslim relation that used by YIPC in its Peace Camp countering those three factors and transforming the participants to be social pluralists are peace values, interfaith dialogue, and reconciliation. It is in the community setting like YIPC that all those activities and efforts are more likely to take place. In conclusion, this study shows that youth or students are effective in religious peacebuilding and able to get involved and to run many types of interfaith dialogue.

Kata Kunci : interfaith dialogue, peacebuilding, student movement

  1. S3-2017-308913-abstract.pdf  
  2. S3-2017-308913-bibliography.pdf  
  3. S3-2017-308913-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2017-308913-title.pdf