INISIATIF LOKAL: STUDI TENTANG ORGANISASI DAN PROSES PENGELOLAAN WISATA ALAM KALIBIRU
INTAN SUKMA JATI, Prof. Dr. Susetiawan, SU
2017 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Penelitian ini akan melihat inisiatif lokal dengan menganalisa aspek organisasi dan tata kelola yang diterapkan, dengan mengambil kasus Wisata Alam Kalibiru. Wisata Alam Kalibiru merupakan daerah pariwisata berbasis kawasan hutan yang terletak di Kabupaten Kulon Progo, dan telah mendapatkan Izin Usaha Pemanfaatan Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) dan berlaku untuk 35 tahun sejak 2008. Pengelolaan Kalibiru dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari pemberdayaan dan perbaikan kesejahteraan yang berdampak kepada masyarakat. Di samping itu, Wisata Alam Kalibiru telah meraih prestasi sebagai pemenang "Wana Lestari" di tingkat nasional dalam kategori penyuluh kehutanan terbaik, yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang secara khusus dibingkai dengan model deskriptif. Lokasi penelitian ini berada di Dusun Kalibiru, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo, DIY. Penentuan informan dilakukan dengan metode snowball dan purposive, yang terdiri dari 9 orang diantaranya: ketua HKm, staf Wisata Kalibiru, masyarakat yang terkena dampak, dan pengunjung. Penelitian ini menggunakan konsep partisipasi (Suhendra, 2010) dan teori birokrasi (Max Weber) sebagai kerangka analisisnya. Konsep partisipasi akan digunakan untuk memahami tahapan masyarakat berpartisipasi, sementara teori birokrasi digunakan sebagai kerangka analisis dalam bagian penjelasan selanjutnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses manajemen pariwisata diorganisir berkat inisiatif dan partisipasi masyarakat setempat yang kemudian membentuk sebuah organisasi yang terstruktur guna meningkatkan potensi Wisata Alam Kalibiru. Hasil tersebut didukung dengan fakta terkait ada enam strategi pengelolaan wisata yang dilakukan oleh masyarakat setempat (1) Pertama-tama mengumpulkan semua anggota masyarakat setempat untuk mengakomodasi aspirasi masyarakat tentang pembangunan yang diharapkan (2) Melibatkan organisasi non-pemerintah untuk membina dan memberdayakan masyarakat setempat (3) Memastikan perencanaan pembangunan yang telah disepakati berjalan. (4) Membentuk organisasi yang bertujuan untuk memulai pembangunan (5) Pelaksanaan pembangunan (6) Memberlakukan sistem kontrol yang bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan wewenang dan manajemen risiko. Temuan ini memiliki implikasi yang signifikan gunamemahami bahwa tidak ada organisasi ideal, namun kita dapat mengukur sejauh mana pengelolaan pariwisata yang telah dilakukan oleh masyarakat Kalibiru mendekati konsep ideal yang diharapkan.
This research would capture local initiatives through examining organization and governance applied, by taking a case of Wisata Alam Kalibiru. Wisata Alam Kalibiru is a tourism based on forest area located in Kulon Progo Regency and has been obtaining a business license for tourism management (IUPHKm), and its prevails for 35 years since 2008. The management aspect of Kalibiru is governed by the local community as part of empowerment and welfare improvements that had been affecting to society. In additions, Wisata Alam Kalibiru has had the achievements as winners of the "Wana Lestari" on the national level in the best of forestry extension officers category, which held by the Ministry of an environment and forestry Indonesia. This research uses qualitative methods, which by specifically framed with the descriptive model. The location of research at the Kalibiru, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo, DIY. Informant determination is carried out by the snowball and purposive methods, and composed of 9 persons who are following: chairman of HKm, a staff of Wisata Kalibiru, the community affected, and visitors. This research uses the concept of participation (Suhendra, 2010) and the bureaucratic theory (Max Weber) as a framework for its analysis. The concept of participation would use to understanding several stages of the community participated in, while the bureaucratic theory would be put as analytical frameworks in the explanation parts later. The results of this study show that the tourism management process is organized by the local community initiative and participation who then formed an organization structured to improving the potential of Wisata Alam Kalibiru. Such result may underpin by the fact, there are six tourist management strategies undertaken by local community (1) Assembles all members of the local community to accommodate the community aspire about development expected (2) Involving non-government organization to fostering and empower the local community (3) Make sure the development planning that has been agreed. (4) Forming an organization that aims to begin the development (5) The development implementation (6) Undertaking a control system that aims to prevent abuse of authority and risk management. These findings have significant implications for the understanding that there is no ideal organization, but we can measure how far the tourism management that has carried out by Kalibiru community approaching the ideal concept of the expected.
Kata Kunci : Strategi, Pengelolaan Wisata, Wisata Alam Kalibiru