Perencanaan Agregat Produk Cake Kukus Pada Industri Cokro Tela Cake Yogyakarta
CICILIA INDANIS ARIANI, Dr.Mirwan Ushada, STP., M.App.Life.Sc ; Novita Erma Kristanti, STP., MP
2017 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANPada tahun 2014, Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia melalui Badan Ketahanan Pangan menetapkan 2014 sebagai tahun singkong. Tahun 2009 di Yogyakarta, Cokro Tela Cake berdiri, yaitu sebuah industri pangan yang bertumpu pada nilai tambah produk dan usaha dengan mengolah tepung singkong menjadi berbagai macam produk siap konsumsi. Salah satu kendala industri ini adalah ketidakseimbangan antara permintaan pasar dan barang yang diproduksi. Penelitian ini diawali dengan pengambilan data historis penjualan pada Industri Cokro Tela Cake. Data historis yang diperoleh kemudian diplotkan ke dalam grafik sehingga akan membentuk pola data. Berdasarkan pola data tersebut maka dapat dipilih teknik peramalan yang sesuai. Jangka waktu perencanaan menggunakan jangka waktu menengah selama 6 bulan kedepan. Perencanaan agregat dilakukan menggunakan simple model yang terdiri dari level strategy, dan chase strategy. Dari kedua metode tersebut kemudian dipilih metode yang menghasilkan biaya paling minimum untuk diterapkan pada Industri Cokro Tela Cake. Hasil analisa menunjukkan bahwa perencanaan agregat yang optimal adalah menggunakan level strategy dengan metode constant with minimum group yang menghasilkan biaya paling minimum dibandingkan dengan chase strategy yaitu sebesar Rp304.200.000,-. Strategi ini mengarah pada solusi regular production yang konstan tiap periode. Sehingga jadwal produksi tidak berubah-ubah dengan mengijinkan adanya lembur, subkontrak, dan lost-sales. Perekrutan dan pemberhentian tenaga kerja hanya diperbolehkan pada periode pertama.
In 2014, the Ministry of Agriculture of the Republic of Indonesia through the Food Security Agency set 2014 as the year of cassava. In 2009 in Yogyakarta, Cokro Tela Cake was established, which is a food industry that relies on the added value of products and businesses by processing cassava flour into a variety of ready-to-eat products. One of the obstacles of this industry is the imbalance between market demand and its products produced. This study begins by collecting historical data on sales of the Cokro Tela Cake Industry. The historical data obtained is then plotted into the graph so that it will form a pattern. Based on the data pattern, it can be selected the appropriate forecasting techniques. The planning period uses the medium term for the next 6 months. Aggregate planning is done using a simple model consisting of level strategy, and chase strategy. From these two methods then selected the method that has the minimum cost to be applied to Cokro Tela Cake Industry. The result of the analysis shows that the optimal aggregate planning is using level strategy with the constant with minimum group method that produces the minimum cost compared with the chase strategy that is Rp304.200.000, -. This strategy leads to a constant regular production solution for each period. So the production schedule does not change by allowing overtime, subcontracting, and lost-sales. Recruitment and dismissal of workers is permitted only in the first period.
Kata Kunci : cake kukus, peramalan, perencanaan agregat