Laporkan Masalah

Beyond Protest Voting: Membaca Pesan Tersembunyi di Balik Kertas Suara Tidak Sah

WEGIK PRASETYO, R.b. Abdul Gaffar Karim, S.I.P., M.A.

2017 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)

Tulisan ini terkait penggunaan tanda dan simbol sebagai protest voting dalam suara tidak sah Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tulisan ini akan mengintepretasikan pesan-pesan tersembunyi yang disampaikan pemilih melalui surat suara. Artikel ini memberi kontribusi untuk mengatasi dua permasalahan sekaligus, yakni konseptual dan praktis. Secara konseptual, ada gap dalam kajian protest voting selama ini. Protest voting menjelaskan voting tidak hanya digunakan untuk mendukung kandidat atau partai namun dapat diartikan sebagai bentuk protes. Namun dalam tulisan ini, protes tidak disampaikan melalui voting melainkan melalui tanda, simbol, ataupun pesan dalam surat suara. Secara praktis, ada permasalahan sistem pemilu dalam melihat suara rakyat. Sistem pemilu saat ini menyamaratakan cara pandang melihat suara tidak sah (secara administratif). Padahal di luar kerangka administratif tersebut, kertas suara dapat juga dibaca dalam kerangka politik atau operasi kekuasaan, yakni sikap warganegara. Sikap warganegara ditunjukan melalui pesan-pesan yang disematkan dalam surat suara. Pesan-pesan atas sikap warganegara merupakan bagian dari suara rakyat dan merupakan esensi dari pemilu itu sendiri. Tulisan ini menunjukan pesan-pesan tersebut tidak tertampung oleh sistem pemilu saat ini. Pesan-pesan tersebut meliputi pesan atas indikasi terjadinya politik uang paska bayar, bentuk ekspresi senang pemilih yang disampaikan dalam surat suara, adanya umpatan dan hujatan yang disampaikan pemilih, adanya penolakan terhadap kandidat, dan adanya penolakan terhadap sistem pemilu saat ini.

This article related to the use of signs and symbols as a protest vote beyond the invalid votes in the presidential election 2014 in Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). This paper will interpret the hidden messages conveyed by voters through a ballot. This article contributes to solve two problems at once, the conceptual and practical. Conceptually, there is a gap in the study of protest voting. Protest voting describes voting as not only used to support candidates or parties but can be used as a form of protest. However, in this paper the protest was not conveyed through voting but using signs, symbols, or messages in ballot. Practically, there are problems in the electoral system on viewing people votes. The current electoral system generalizes the approach on viewing invalid votes. Whereas there are hidden messages that are part of the people votes and the essence of the election itself beyond the invalid ballot papers. This paper shows that these messages can not be accommodated by the current electoral system. Those include an indication of post-election money politics, expressions of blissful voters delivered on the ballot, the expletives and insults expressed by voters, a rejection of the candidates, and also a rejection for the current electoral system.

Kata Kunci : Surat Suara Tidak Sah, Protest Voting, Wacana

  1. S1-2017-335732-abstract.pdf  
  2. S1-2017-335732-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-335732-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-335732-title.pdf