Marginalisasi Sektor Peternakan dalam Politik Perubahan Iklim Internasional
MUHAMMAD ILMI YAHDIYAN, Dr. Maharani Hapsari, S.IP., M.A.
2017 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALPada tahun 2006, Food and Agriculture Organization (FAO) merilis laporan laporan berjudul Livestock Long Shadow yang memaparkan hasil studi mereka mengenai dampak lingkungan dari sektor peternakan khususnya terkait isu perubahan iklim. Laporan tersebut memaparkan bahwasanya sektor peternakan merupakan salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, lebih besar dibanding sektor transportasi. Pengetahuan ini kemudian memunculkan perdebatan di komunitas politik dan saintifik internasional mengenai sektor peternakan yang meskipun besar terhadap perubahan iklim dipandang telah termarginalkan dari proses-proses politik perubahan iklim. Fenomena marginalisasi sektor peternakan tersebut terjadi sebagai implikasi dari proses ko-produksi pengetahuan di tubuh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang di dalamnya memuat upaya-upaya oleh beberapa aktor negara, utamanya Amerika Serikat, India, dan Brazil, untuk memarginalkan sektor tersebut dari agenda diskusi dan negosiasi mengenai perubahan iklim. Berbagai studi dan produk-produk pengetahuan lainnya kemudian muncul guna merespon upaya marginalisasi tersebut, baik dalam rangka mendukung ataupun menentangnya. Marginalisasi sektor peternakan merupakan salah satu kasus nyata di mana proses politik dan produksi pengetahuan saling mempengaruhi satu sama lain. Berangkat dari hal tersebut, tulisan ini berupaya untuk memaparkan bagaimana suatu produk pengetahuan, baik yang merupakan produk pengetahuan dominan ataupun marginal, tidak bisa diterima begitu saja namun perlu untuk ditelaah dan dipahami bagaimana produk pengetahuan tersebut diproduksi serta proses-proses politik apa saja yang menyertainya.
In 2006, Food and Agriculture Organization (FAO) released a report titled Livestock Long Shadow that explained the result of their study on livestock sector's impacts on the environment especially related to climate change. The report argued that the livestock sector is one of the biggest greenhouse gas emitter, bigger than the entire transportation sector. This knowledge would then spark a debate within the international political and scientific community regarding the livestock sector that was seen as being marginalized from the international climate change processes despite its contribution towards climate change. Livestock sector's marginalization phenomenon happened as the result of a coproduction of knowledge process within United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) in which there were efforts by several nation actors, primarily United States of America, India, and Brazil, to marginalize the sector from climate change's negotiation and discussion agenda. Various studies and other knowledge products was then produced in response to those marginalization efforts, whether to support it or to oppose it. Based on that, this writing would like to try to explain how a knowledge product, whether it's a dominant or marginal knowledge, cannot be taken for granted but needs to be further analyzed on how that knowledge was produced and what political processes accompanied it.
Kata Kunci : sektor peternakan, marginalisasi, perubahan iklim, ko-produksi pengetahuan