Laporkan Masalah

KERAGAMAN SERBUK SARI DAN METABOLIT SEKUNDER PADA MADU HUTAN SULAWESI TENGAH

MUSTAFID RASYIID, Dr. Ratna Susandarini, M.Sc.

2017 | Skripsi | S1 BIOLOGI

Madu hutan Sulawesi Tengah diproduksi oleh koloni lebah hutan (Apis dorsata Fabricus, 1793). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan yang dikunjungi dan diambil nektarnya oleh lebah hutan dan kandungan senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada madu hutan. Penelitian ini menggunakan 10 sampel madu hutan yang berasal dari Kabupaten Donggala, Banggai, Banggai Kepulauan, Morowali, Poso, Toli-toli, Parigi-Moutong, Tojo Una-una, Sigi, dan Buol. Metode yang digunakan untuk pembuatan preparat serbuk sari adalah metode asetolisis yang dimodifikasidan metode KLT untuk mendeteksi senyawa metabolit sekunder. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa madu hutan dari 10 kabupaten di Sulawesi Tengah memiliki keanekaragaman serbuk sari yang tinggi dengan kisaran antara 10 sampai 38 serbuk sari. Secara berturut-turut madu hutan Banggai Kepulauan memiliki 38 serbuk sari, madu Banggai memiliki 36 serbuk sari, madu Donggala memiliki 33 serbuk sari, madu Morowali memiliki 30 serbuk sari, madu Poso memiliki 20 serbuk sari, madu Toli-toli memiliki 10 serbuk sari, madu Parigi-Moutong memiliki 57 serbuk sari, madu Tojo Una-una memiliki 38 serbuk sari, madu Sigi memiliki 25 serbuk sari, dan madu Buol memiliki 22 serbuk sari. Setiap sampel madu hutan yang diteliti mengandung lima golongan senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, fenolik, flavonoid, tanin, dan terpenoid. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa madu hutan Sulawesi Tengah memiliki kualitas baik berdasarkan kriteria keanekaragaman serbuk sari yang tinggi dan mengandung lima golongan senyawa metabolit sekunder.

Central Sulawesi forests Honey from is produced by giant honey bee (Apis dorsata Fabricus, 1793). This study aims to determine the diversity of plants visited by the giant honey bee and secondary metabolite compounds in forest honey. Ten samples of forest honey here collected from Donggala, Banggai, Banggai Kepulauan, Morowali, Poso, Toli-toli, Parigi-Moutong, Tojo Una-una, Sigi, and Buol. Modified acetolysis method was used for pollen preparation and TLC method for detection of secondary metabolite compounds. The results showed that honeys from 10 districts in Central Sulawesi have high pollen diversity with a range between 10 to 57 pollens. Banggai Kepulauan honey has 38 pollens, Banggai honey has 36 pollens, honey Donggala has 33 pollens, Morowali honey has 30 pollens, Poso honey has 20 pollens, Toli-toli honey has 10 pollens, Parigi-Moutong honey has 57 pollens, Tojo Una-una honey has 38 pollens, Sigi honey has 25 pollens, and Buol honey has 22 pollens. Each sample of forest honeys contained five classes of secondary metabolite compounds namely alkaloids, phenolics, flavonoids, tannins, and terpenoids. Thus it can be concluded that honeys from Central Sulawesi forests are of good quality based on criteria of having high pollen contents and the content of five classes of secondary metabolite compounds.

Kata Kunci : Madu hutan, Apis dorsata, keragaman serbuk sari, metabolit sekunder

  1. S1-2017-346995-abstract.pdf  
  2. S1-2017-346995-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-346995-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-346995-title.pdf