Laporkan Masalah

PERTUMBUHAN AWAL KEMIRI SUNAN (Reutealis trisperma) PADA MEDIA TAILING TIMAH DENGAN PEMBERIAN BAHAN AMELIORASI TANAH LIMBAH BIOGAS DAN ABU VULKANIK

VICTORY NOVELTY M. HARIANJA, Prof Dr. Ir. Cahyono Agus DK, M.Agr.Sc;Dr. Ir. Eny Faridah, M.Sc.

2017 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Aktivitas penambangan timah telah menyebabkan degradasi lahan dan kerusakan lingkungan yang parah. Tumpukan tailing tanah bekas tambang memiliki kesuburan yang rendah dan keberadaan logam berat yang tidak menguntungkan dalam sebagian besar kehidupan mahluk hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mempercepat rekonsolidasi ekosistem terdegradasi di lahan tambang timah sebelumnya, untuk meningkatkan produktivitas lahan dan lingkungan melalui teknologi rehabilitasi yang tepat pada lahan marjinal yang murah, ramah lingkungan dan berkelanjutan menggunakan amandemen abu vulkan dan limbah biogas. Penelitian dilakukan mulai dari mengetahui karakterisasi lahan bekas tambang timah yang terdegradasi melalui penentuan sifat kimia, fisika, dan mineral tanah dan memperkenalkan pilihan jenis multi fungsi kemiri sunan yang secara ekologi mempercepat pengembalian ekosistem penambangan timah yang terdegradasi (revegetasi) serta memberikan nilai ekonomi. Tanah termasuk sebagai tanah asam penambangan timah tropis (pH 4,97-5.5) yang didominasi oleh partikel pasir (70-90%), kapasitas tukar kation sangat rendah, kandungan hara sangat rendah (P dan K-tersedia dan total-N, P, K, Ca, Mg, Mo) dan toksisitas tinggi Zn, Cu, B, Cd, Ti sedangkan Al, Fe, Mn, Mo, Pb, dan S memiliki toksisitas rendah/normal. Pemberian limbah biogas atau abu vulkanik mampu meningkatkan kualitas tanah dengan meningkatnya pH, kapasitas tukar kation yang lebih baik kemudian peningkatan P dan K tersedia serta mengurangi toksisitas logam yang melebihi ambang batas. Pertumbuhan (tinggi, diameter, biomassa, root-top ratio) kemiri sunan (Reutealis trisperma) sebagai tanaman perintis eksotis juga meningkat seiring dengan peningkatan kualitas tanah setelah penerapan amandemen tanah dan dosis yang tepat. Konsep dan teknologi tepat guna dalam merehabilitasi ekosistem lahan timah terdegradasi mempunyai kontribusi yang tinggi untuk lingkungan yang lebih baik serta berkelanjutan.

Tin mining activity had caused land degradation and severe damage of the environment. The pile of tailings ex-mining landfills has low fertility and the presence of heavy metals that are unprofitable in most living things. This study aims to accelerate the reconsolidation of degraded ecosystems in previous tin mines, to improve land and environmental productivity through appropriate rehabilitation technologies on marginal land that is inexpensive, environmentally friendly and sustainable using volcanic ash and biogas waste. The research was carried out from knowing the characterization of former tin mining land degraded through determination of chemical, physical and mineral properties of the soil and introducing a selection of multifunctional hazelnut species that ecologically accelerated the return of degraded tin mining ecosystems as well as providing economic value. Soils include tropical tin mining acid (pH 4.97-5.5) dominated by sand particles (70-90%), very low cation exchange capacity, very low nutrient content (P and K-available and total-N, P , K, Ca, Mg, Mo) and high toxicity Zn, Cu, B, Cd, Ti whereas Al, Fe, Mn, Mo, Pb, and S have low / normal toxicity. Giving biogas or volcanic ash can improve soil quality by increasing pH, better cation exchange capacity then increasing P and K available and reducing metallic toxicity exceeding threshold. Growth (height, diameter, biomass, root-top ratio) of Kemiri sunan (Reutealis trisperma) as an exotic pioneer plant also increases along with soil quality improvement after proper amendment of soil and dosage. Appropriate concepts and technologies in rehabilitating degraded tin land ecosystems have contributed significantly to a better and sustainable environment.

Kata Kunci : bahan pembenah, degradasi lahan, produktivitas lahan, rehabilitasi, penambangan timah tropis.;improving materials, land degradation, land productivity, rehabilitation, tropical tin mining.