HUBUNGAN ANTARA FAKTOR RISIKO DENGAN TINGKAT KEJADIAN BABESIOSIS PADA ANJING DI YOGYAKARTA
RATNA NUR HAYATI, Dr. drh. Dwi Priyowidodo
2017 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN HEWANAnjing merupakan hewan liar yang hidup berburu dengan cara berkelompok pada zaman prasejarah. Kesehatan anjing adalah hal penting yang harus diperhatikan agar kondisinya selalu sehat. Salah satu protozoa yang seringkali menginfeksi anjing melalui gigitan caplak adalah Babesia sp. yang menyerang sel darah merah dan menyebabkan anemia haemolitik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan tingkat kejadian babesiosis pada anjing di Yogyakarta. Penularan penyakit dengan caplak sebagai vektornya umumnya terjadi pada wilayah peternakan atau lingkungan yang penduduknya banyak memelihara binatang peliharaan. Sampel darah anjing diambil melalui v. femoralis atau v. cephalica; darah dimasukan ke dalam tabung EDTA sebanyak 1 ml untuk hematologi darah dan isolasi DNA; mengambil data kuisioner sebanyak 123 sampel untuk anjing di wilayah Yogyakarta; pembuatan preparat apus darah dan dilakukan pengecatan dengan Giemsa kemudian diamati dibawah mikroskop perbesaran 100x; PCR dengan menggunakan primer 18s RNA untuk spesifik genus Babesia; data sekunder berupa faktor yang beresiko pada kejadian babesiosis diambil dengan kuisioner dan dianalisis dengan SPPS menggunakan metode chi square untuk melihat ada tidaknya asosiasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi babesiosis pada anjing di Yogyakarta sebesar 40,65 %. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian babesiosis adalah umur, ras dan pemeliharaan.
Dogs are wild animals which hunt in groups since prehistoric times. Dog's health is an important thing to be considered to prevent them to get infected from disease. One of the protozoa which often infects dogs through the bite of ticks is Babesia sp. It attacks red blood cells and cause hemolytic anemia. This research is conducted to determine the correlation between risk factors and the prevalence of babesiosis in dogs in Yogyakarta. The diseases transmission from ticks as vector generally occurs in the animal husbandry area or the environment where human keep pets. Dog blood samples taken throught v. femoralis or v. cephalica; blood is inserted into 1 ml EDTA tube for blood hematology and DNA isolation; collecting 123 qusionnaires for dog in Yogyakarta area; making blood smear preparations and painting with Giemsa then observed under a 100x magnification microscope; PCR using primer 18s RNA for specific genus Babesia; secondary data in the form of risk factors in the occurrence of babesiosis taken with questionnaire and analyzed by SPSS using chi square method to see whether there asosiation. The results showed that the prevalence of babesiosis in dogs in Yogyakarta is 40.65 %. Risk factors associated with the prevalence of babesiosis are age, breed and treatment.
Kata Kunci : babesiosis, vector, chi square, PCR